Tim akhirnya memutuskan bermalam di lereng tebing dengan kontur tanah berbatu yang labil dan berisiko longsor akibat hujan yang tidak berhenti. Seluruh personel bertahan bersama jenazah selama kurang lebih 30 jam di lokasi.
“Kami turun dari titik dekat punggungan awal pesawat jatuh. Setelah menemukan korban, kondisi medan dan cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras, kabut tebal, dan dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah,” ujarnya.
Ia melanjutkan, pada siang hari berikutnya (19/01), tim pertama melakukan estafet penyerahan jenazah kepada tim lanjutan karena kondisi fisik dan keselamatan personel sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan evakuasi.
“Keselamatan tim tetap menjadi prioritas, sehingga proses evakuasi dilanjutkan oleh tim berikutnya,” ujarnya.
Tim kedua yang melanjutkan estafet jenazah menuju area persawahan kampung Lampeso dengan waktu tempuh 20 jam perjalanan (20/1/2026), dan melanjutkan intercept dengan tim ketiga di Desa Lampeso untuk menuju ke kampung baru melalui jalan setapak sekitar 15 kilometer dengan melewati medan berupa punggungan dan sungai.
Kemudian dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 5 kilometer untuk mencapai jalan poros Kecamatan Cenrana dan kemudian akan dievakuasi ke RS Bayangkhara Makassar untuk diserahkan ke pihak DVI.
Sampai artikel ini diturunkan, korban pertama masih berada di Lampeso. Informasi selanjutnya akan terus dilaporkan sesuai dengan perkembangan di lapangan.
(Erha Aprili Ramadhoni)