Hafizuddeain diangkat sebagai Kepala Angkatan Darat Malaysia pada September 2023 dan sempat dijadwalkan menduduki jabatan Kepala Angkatan Bersenjata, posisi militer profesional tertinggi di negara tersebut. Namun, promosi itu ditangguhkan pada akhir Desember setelah penyelidikan korupsi dibuka.
Pengadilan menetapkan jaminan sebesar RM250.000 bagi Hafizuddeain dan RM30.000 untuk Salwani. Keduanya juga diwajibkan menyerahkan paspor kepada pengadilan serta melapor ke Komisi Anti Korupsi Malaysia (MACC) sebulan sekali.
Dalam pernyataan terpisah, MACC menyebut Hafizuddeain akan menghadapi dua dakwaan tambahan berdasarkan undang-undang yang sama di Pengadilan Khusus Korupsi Shah Alam, Selangor, pada Jumat (23/1/2026). Sementara itu, Salwani dijadwalkan menghadapi satu dakwaan tambahan di Pengadilan Negeri Jertih, Terengganu, pada 26 Januari.
MACC juga mengumumkan bahwa mantan Kepala Angkatan Bersenjata Malaysia, Nizam Jaffar, akan didakwa pada Jumat atas tuduhan pelanggaran kepercayaan dan korupsi. Nizam, yang menjabat sejak Januari 2025, menjadi orang pertama yang dipilih dari luar jajaran kepala aktif tiga matra utama militer.
Komisi tersebut menambahkan bahwa penyelidikan terhadap dua perwira senior angkatan bersenjata lainnya telah memasuki tahap akhir, dengan berkas perkara segera diserahkan ke kejaksaan.
Sejauh ini, MACC telah menyita dan membekukan lebih dari RM52 juta atau sekitar US$12,82 juta (Rp217,3 miliar) berupa uang tunai, emas, barang mewah, serta dana dari lebih 80 rekening bank dalam dua kasus terpisah terkait dugaan korupsi pengadaan militer. Total 23 orang, termasuk personel militer dan warga sipil, telah ditangkap dalam rangkaian penyelidikan tersebut.
(Awaludin)