Gerakan ekoteologi juga digerakkan melalui Majelis Taklim dengan program penanaman satu juta pohon matoa, sebagai upaya menumbuhkan kepedulian lingkungan di tingkat komunitas.
Sementara pada aspek akademik dan penguatan narasi keagamaan, Kemenag menggelar International Conference on Islamic Ecotheology for The Future of The Earth yang melibatkan para pakar dan akademisi.
Abu Rokhmad menilai konferensi tersebut penting untuk memperkuat landasan ilmiah dan literasi ekoteologi.
Dia juga berharap Rakernas 2026 ini jadi momentum konsolidasi nasional untuk memperkuat kolaborasi, efisiensi, dan nilai-nilai keislaman dalam menyiapkan umat masa depan.
“Pesan lingkungan harus menjadi bagian dari ajaran agama yang mudah dipahami dan diamalkan,” tandasnya.
(Fahmi Firdaus )