Rapuhnya Kemanusiaan
Di balik semua kemungkinan itu, ada pertanyaan yang menghunjam, yaitu mengapa perang terus berulang terjadi dalam sejarah panjang kemanusiaan? Jawabannya mungkin terletak pada cara pandang kita memahami kekuasaan. Dalam politik internasional, kekuatan militer acap dianggap sebagai bahasa terakhir dari keamanan. Negara merasa harus menunjukkan kekuatan agar dihormati. Rivalitas geopolitik mendorong logika keseimbangan kekuatan. Singkatnya, pendekatan keamanan dengan lensa teori realis yang acap digunakan.
Sementara itu, pendekatan liberalisme yang nempatkan kerjasama dan penghormatan pada institusi perdamaian dan norma acap tidak dilirik. Selain itu, dalam tradisi etika yang lebih tua, termasuk dalam warisan moral agama menunjukkan bahwa kekuatan seharusnya justru digunakan untuk melindungi kehidupan, bukan menghancurkannya.
Dalam perspektif kemanusiaan, perang selalu menyisakan paradoks. Para pemimpin acap berbicara tentang kemenangan. Para strategi berbicara tentang keseimbangan kekuatan. Namun, mereka abai bahwa korban terbesar selalu adalah mereka yang tidak pernah memilih jalan perang, yaitu warga sipil, anak-anak, dan masyarakat biasa yang hidupnya tiba-tiba hancur oleh keputusan politik pemimpin yang dirasuki kekuasaan yang jauh dari kehidupan mereka. Di sinilah kita diingatkan pada satu prinsip moral sederhana, yaitu tidak ada kemenangan sejati dalam perang yang menghancurkan kemanusiaan.
Pungkasannya, perang antara Isreal-AS dan Iran mungkin akan menemukan jalannya sendiri, cepat atau lambat, apakah menuju eskalasi, perang panjang, atau jeda diplomatik, sebagaimana disebutkan di atas. Namun, yang dipertaruhkan sesungguhnya bukan hanya stabilitas kawasan, melainkan juga masa depan kemanusiaan kita sendiri.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.