TASIKMALAYA - Tangan kanan Didit terus mengecek tekanan air radiator, sedangkan tangannya kiri meraba suhu mesin di balik kap. Anissa, istri Didit terus melihat ke layar ponsel dengan wajah gelisah. Sesekali dia menyodorkan botol air radiator ke sang suami.
Mereka dengan mobilnya berada di tengah tanjakan Lingkar Gentong, yang pada Selasa (24/3/2026) siang itu arus balik sedang parah-parahnya. Ribuan kendaraan melintasi Lingkar Gentong per jamnya. Tak semua kendaraan mampu melewati tanjakan hingga akhirnya berakhir mogok. Ada yang karena kopling terbakar, mesin overheat, sampai masalah pengereman.
Didit merasa mobilnya mogok tak kuat menanjak lantaran efek macet mengular lebih dari 5 kilometer dari Simpang Sukamantri hingga Letter U Lingkar Gentong. Mobil Honda City lansiran tahun 2000 miliknya mulai mengeluarkan tanda overheat sejak di Simpang Pamoyanan. Temperatur semakin terkerek panas saat memasuki Letter S tanjakan Gentong.
Tanda-tanda mobilnya akan mogok terasa jelas saat tarikan pertama menuju kelokan yang disambut terjalnya tanjakan. Manuver seadanya yang hanya bisa dilakukan Didit lantaran gas tidak bisa menyentak, meski kaki sudah penuh injak pedal.
Merasa mobilnya tak lagi kuat melaju, ia terpaksa menepi. Upaya menepi bukan perkara gampang karena di kanan-kiri bersinggungan dengan kendaraan lain. Sampai akhirnya momen pas bagi Didit untuk menyetop kendaraan secara perlahan di tepi tanjakan jalan.
"Awalnya naik itu temperatur. Mobil udah lemes banget nanjak. Untungnya masih bisa nepi pelan-pelan," kata Didit.
Ia dan istrinya hanya bisa menunggu mesin kembali dingin. Berharap temperatur mesin mobil normal, dan bergegas kembali ke Bandung setelah sekian hari mudik ke Ciamis.
Padahal, jika mobil tak ada masalah mogok karena payah menanjak di Lingkar Gentong, waktu tempuh ke Bandung hanya sekira 3-4 jam.
"Sudah 30 menit didiemin dulu mesinnya. Ya siapa tau nyala, koplingnya juga semoga ngegigit lagi, sudah capek juga nungguinnya," kata dia.
Di belakang dan depan mobil Didit, tampak berjejer mobil, dengan kap mesin terbuka. Tak sedikit, asap mengepul dari mesin. Ada yang mengutak-atik mobilnya, ada yang menunggu mesin sampai dingin seperti Didit, dan ada pula yang menunggu montir datang.
Sembari menunggu mobil kembali hidup, mereka semua terpaksa ngemper duduk di tepi jalan dengan perasaan waswas.
Bagi Anissa, momok tanjakan Lingkar Gentong bakal terus menerpanya saban bepergian mudik. Jika saran yang ditawarkan adalah mengganti mobil keluaran tahun anyar, pastinya itu bukan saran yang ramah bagi Anissa dan Didit.
Mereka mengharapkan pemerintah memikirkan solusi. Itu karena kemacetan mengular sebelum memasuki Lingkar Gentong bakal mengakibatkan antrean kendaraan di tanjakan terjal Gentong.
"Karena pada saat arus mudik atau balik, kami sangat mengalami kesulitan, di mana terdapat antrean kendaraan yang panjang, dan menyebabkan kopling mobil rusak. Harapannya pemerintah dapat menyediakan jalan alternatif yang lebih besar, mungkin jalan tol dan lainnya," ujar Anissa.
Lanskap tanjakan bukan cuma terjal, tapi juga berkelok menyerupai letter S. Pengemudi yang salah perhitungan menancap gas bakal kehilangan momen untuk menanjak karena kehilangan daya lebih dulu saat berbelok. Biasanya, 'korban' tanjakan ini ialah kendaraan roda empat dan bus.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.