Namun demikian, bertahan tanpa refleksi adalah bentuk kelalaian. Kematian prajurit harus menjadi alarm keras bahwa ada yang perlu diperbaiki. Apakah mandat yang diberikan kepada pasukan kita cukup jelas dan realistis? Apakah perlengkapan, pelatihan, dan dukungan intelijen sudah sebanding dengan kompleksitas medan yang dihadapi? Apakah koordinasi dengan struktur komando PBB berjalan efektif, atau justru menyisakan celah yang membahayakan?Pertanyaan-pertanyaan ini bukan bentuk skeptisisme terhadap misi perdamaian, melainkan bentuk tanggung jawab negara terhadap warganya. Lebih jauh lagi, Indonesia perlu keluar dari cara pandang lama yang menyempitkan kontribusi perdamaian pada kehadiran militer semata.