Dunia hari ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya diselesaikan di garis depan, tetapi juga di meja perundingan, di ruang diplomasi, bahkan di ranah sosial-budaya. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki modal yang besar sebagai negara dengan pengalaman pluralisme, rekonsiliasi, dan demokratisasi.
Alih-alih hanya menjadi “penjaga jarak” di medan konflik, Indonesia bisa mengambil peran sebagai “negosiator”. Dalam konflik seperti Lebanon, di mana dimensi identitas dan sejarah begitu kuat, pendekatan militer acap tidak cukup. Dibutuhkan kehadiran aktor yang mampu membangun kepercayaan, memfasilitasi dialog, dan menawarkan jalan keluar yang tidak selalu terlihat dalam logika kekuatan.
Pungkasannya, pilihan Indonesia tidak harus hitam-putih antara bertahan atau mundur dari UNIFIL. Ke depan ada jalan ketiga yang lebih matang, yaitu tetap berkomitmen pada misi perdamaian, tetapi dengan strategi yang lebih cerdas dan adaptif. Singkatnya, jika tidak ada jaminan keamanan, dari para pihak yang berperang untuk tidak menargetkan mereka sebagai sasaran tembak, termasuk PBB tidak menjamin keamanan mereka, maka pilihan menarik pasukan adalah sebuah keniscayaan.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.