Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pembicaraan AS dan Iran di Islamabad Tak Capai Kesepakatan, Ini Fakta-Faktanya

Rahman Asmardika , Jurnalis-Minggu, 12 April 2026 |17:39 WIB
Pembicaraan AS dan Iran di Islamabad Tak Capai Kesepakatan, Ini Fakta-Faktanya
Pembicaraan Iran dan AS di Islambad gagal mencapai kesepakatan. (Foto: X)
A
A
A

ISLAMABAD – Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan, yang ditujukan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah berakhir tanpa kesepakatan. Sebelum pembicaraan dimulai pada Jumat (11/4/2026), sudah ada pesimisme mengenai hasil yang mungkin dicapai, dan kini hal itu menjadi kenyataan.

  1. Pembicaraan Tingkat Tertinggi Iran dan AS

Negosiasi damai pada Jumat merupakan pembicaraan tingkat tertinggi antara pejabat Iran dan AS dalam beberapa dekade. AS dan Iran tidak memiliki hubungan diplomatik sejak 1980, menyusul Revolusi Islam Iran pada November 1979 yang menggulingkan pemerintahan Shah yang didukung AS.

Selama revolusi tersebut, mahasiswa Iran menyerang kedutaan besar AS di Teheran, memicu krisis penyanderaan selama 444 hari, yang baru berakhir pada Januari 1981. Sejak itu, pejabat tertinggi AS dan Iran tidak lagi melakukan pertemuan langsung, dan komunikasi sebagian besar berjalan melalui negara perantara atau via telepon. Presiden Iran Hassan Rouhani mencatat sejarah saat melakukan panggilan telepon dengan Presiden AS Barack Obama pada 2013, yang berujung pada negosiasi program nuklir 2015 (JCPOA).

  1. Pembicaraan 21 Jam

Pembicaraan di Islamabad dimulai pada Jumat, 11 April 2026, dan berlangsung selama 21 jam hingga berakhir pada Sabtu, 12 April 2026. Delegasi Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sementara pihak AS dipimpin Wakil Presiden JD Vance bersama Utusan Khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Kedua belah pihak membahas sejumlah isu, termasuk status Selat Hormuz, pengayaan uranium Iran, kompensasi kerusakan perang, hingga penghentian konflik di berbagai front. Namun, pada akhirnya tidak ada kesepakatan yang tercapai.

 

  1. AS dan Iran Saling Menyalahkan

Wapres JD Vance mengatakan bahwa AS telah menegaskan "garis merah" Washington kepada Iran, termasuk tuntutan agar Teheran tidak membuat senjata nuklir. Ia menyebut kegagalan mencapai kesepakatan sebagai "berita buruk bagi Iran" dan menegaskan bahwa AS telah mengajukan syarat "terbaik dan terakhir".

Sementara itu, media Iran melaporkan bahwa tuntutan AS yang "berlebihan" dan "tidak masuk akal" menghambat tercapainya kesepakatan. Laporan lain menyebut ada kesepakatan mengenai sejumlah isu, tetapi Selat Hormuz dan program nuklir Iran tetap menjadi poin perbedaan utama.

  1. Nasib Gencatan Senjata dan Kelanjutan Konflik

Kegagalan pembicaraan tampaknya belum menutup peluang negosiasi berikutnya, meski delegasi AS telah meninggalkan Pakistan. Gencatan senjata antara AS dan Iran, yang direncanakan berlangsung selama dua pekan, diharapkan tetap dipertahankan terlepas dari kegagalan negosiasi.

Dalam konferensi pers usai pembicaraan, pemerintah Pakistan menekankan bahwa Islamabad “memahami urgensi menurunkan ketegangan di kawasan” dan berharap semua pihak menahan diri dari langkah sepihak yang dapat memperburuk situasi.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa Teheran “tetap terbuka untuk dialog, tetapi dengan prasyarat yang menghormati kedaulatan dan hak-hak Iran,” termasuk kemampuan pertahanan nasional seperti program rudal.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa "tidak ada bedanya apakah Iran dan AS mencapai kesepakatan atau tidak". Ia kembali menegaskan bahwa AS "telah menang" dalam konflik dengan Iran.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement