Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kekerasan Seksual Jadi Alat Israel Intimidasi dan Usir Warga Palestina

Erha Aprili Ramadhoni , Jurnalis-Kamis, 23 April 2026 |10:28 WIB
Kekerasan Seksual Jadi Alat Israel Intimidasi dan Usir Warga Palestina
Kekerasan Seksual Jadi Alat Israel Intimidasi dan Usir Warga Palestina (Unsplash)
A
A
A

TEPI BARAT - Pemukim Israel menggunakan kekerasan seksual sebagai alat untuk mengintimidasi warga Palestina. Kekerasan dan pelecehan seksual itu dimaksudkan untuk mengusir warga Palestina dari rumahnya. 

Seorang warga Qusay Abu al-Kabash (29) menderita secara fisik dan psikologis akibat serangan seksual yang diduga dilakukan sekelompok pemukim yang menyerang komunitas Badui tempat ia tinggal di Lembah Yordania, Tepi Barat, yang diduduki.

Pada 13 Maret, di tengah malam, lebih dari 70 pemukim menyerang Khirbet Hamsa al-Fawqa.

Qusay mengatakan kepada Al Jazeera, para pemukim membagi diri menjadi beberapa kelompok untuk menyerang tenda-tenda Palestina. Lima pemukim menyerang tendanya – tempat ia tidur – dan mulai memukulinya dengan keras menggunakan tangan dan tongkat. Mereka juga menyerang dua aktivis perempuan asing yang tidur di tenda yang sama.

“Para pemukim kemudian secara paksa melepas celana saya sambil mengikat tangan dan kaki saya, mengikat tubuh saya dengan ikat pinggang, dan menelanjangi pakaian dalam saya,” kata Qusay, melansir Al Jazeera, Kamis (23/4/2026). 

Ia menceritakan, para pemukim kemudian memukuli alat kelaminnya, mengikat anggota tubuh dan alat kelaminnya dengan ikatan plastik, dan mempermalukannya, sebelum mengancam akan mengulangi serangan itu jika ia tidak meninggalkan daerah tersebut.

Serangan terhadap Qusay dan semua penduduk daerah itu berlangsung selama kurang lebih 45 menit. Selama waktu itu, banyak penduduk, termasuk anak-anak, melaporkan dipukuli, dan mengatakan mereka diancam akan dibunuh jika mereka tidak segera pergi. Para pemukim juga mencuri ratusan ternak.

Pada akhir serangan, Qusay mengatakan para pemukim menyeretnya di tanah tanpa pakaian dalam dan memukulinya dengan keras di seluruh tubuhnya, termasuk matanya, yang kemudian membengkak.

“Dampak psikologis dari serangan seksual itu jauh lebih besar daripada dampak fisiknya,” kata Qusay. 
“Setelah serangan itu, saya merasa sangat marah dan mudah tersinggung, dan saya lebih suka duduk sendirian, merasa tertekan.”

Dipaksa Tinggalkan Rumah

Kekerasan seksual dan pelecehan yang disengaja semakin umum terjadi di Tepi Barat yang diduduki, yang dilakukan oleh tentara dan pemukim Israel. Menurut para pengamat, tindakan-tindakan ini bukan lagi insiden terisolasi, melainkan alat sistematis yang digunakan Israel untuk menekan warga Palestina dan memaksa mereka meninggalkan rumah mereka.

Pada 20 April, Konsorsium Perlindungan Tepi Barat – yang dipimpin Dewan Pengungsi Norwegia dan didanai Uni Eropa dan beberapa negara Eropa – menerbitkan sebuah laporan berjudul, Kekerasan Seksual dan Pemindahan Paksa di Tepi Barat. Laporan itu mendokumentasikan kasus-kasus kekerasan seksual terkait konflik selama hampir tiga tahun di wilayah Palestina.

Laporan tersebut mendokumentasikan pemaksaan telanjang, penggeledahan tubuh yang invasif, ancaman pemerkosaan, dan pelecehan seksual. Laporan tersebut menyimpulkan lebih dari 70 persen keluarga pengungsi yang diwawancarai mengatakan bahwa ancaman terhadap perempuan dan anak-anak, khususnya kekerasan seksual, merupakan faktor penentu dalam meninggalkan rumah mereka.

Namun, masalahnya mungkin lebih besar dari yang dijelaskan dalam laporan tersebut, karena kesulitan dokumentasi, rasa takut, dan stigma sosial yang terkait dengan kekerasan seksual.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement