JAKARTA – Kecelakaan yang melibatkan kereta Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) menyebabkan setidaknya tujuh orang tewas dan 81 orang mengalami luka-luka. Kejadian tragis ini tak hanya menjadi perhatian publik nasional, tetapi juga disorot oleh media-media internasional.
Media arus utama internasional seperti Associated Press (AP), AFP, dan BBC melaporkan kejadian ini dan menyoroti catatan keselamatan transportasi di Indonesia, terutama kereta api, yang dianggap kurang memuaskan. Dalam laporannya, BBC menyebut Indonesia secara umum memiliki tingkat kecelakaan transportasi yang tinggi, mencontohkan insiden tabrakan kereta di Cicalengka, Jawa Barat pada Januari 2024 yang menewaskan empat orang.
Associated Press melaporkan bahwa kecelakaan kereta api adalah insiden yang umum terjadi di Indonesia. Laporan tersebut mencontohkan kejadian pada tabrakan kereta di Cicalengka, Jawa Barat pada Januari 2024 yang menewaskan empat orang, tabrakan kereta dengan minibus di Indramayu pada 2013 yang menelan 13 korban jiwa, dan tabrakan kereta di Petarukan pada 2010 yang menewaskan 36 orang, di antara contoh insiden yang menelan banyak korban.
Media-media asing menyebut infrastruktur yang sudah menua dan perawatan yang buruk sebagai salah satu faktor penyebab seringnya terjadi kecelakaan. Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi korban dari gerbong kereta yang hancur ditabrak masih berlangsung. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), Bobby Rasyidin, mengatakan bahwa masih ada sekitar tiga orang korban yang terjebak di dalam kereta.
PT KAI telah menangguhkan sejumlah perjalanan kereta jarak jauh Jakarta–Jawa menyusul kejadian ini, dan sebagian perjalanan KRL Commuter Line mengalami penyesuaian pada Selasa (28/4/2026) pagi.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.