Ia mengingatkan agar masyarakat melihat persoalan Papua secara lebih menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai perspektif dan fakta yang ada. Ada kritik dan persoalan yang memang harus didengar, tetapi juga ada realitas pembangunan, investasi negara, pendidikan, kesehatan, dan keterlibatan masyarakat Papua yang tidak boleh diabaikan.
“Kalau ada pihak yang tidak setuju dengan isi film, jawab dengan data, riset, dan argumentasi. Jangan dengan intimidasi atau pelabelan. Sebaliknya, pembuat karya juga harus siap menerima kritik secara terbuka dan tanggung jawab baik moral maupun hukum,” tuturnya.
Di sisi lain, ia berharap perdebatan mengenai film tersebut dapat menjadi momentum membangun budaya diskusi yang sehat di ruang publik, kampus, dan bidang seni budaya. Perbedaan pandangan seharusnya dijawab dengan data, riset, dan argumentasi, bukan intimidasi maupun pelabelan.
Namun, ia mengingatkan bahwa literasi media di era digital juga tak boleh luput karena arus informasi di media sosial sering membuat masyarakat lebih cepat bereaksi emosional dibanding melakukan verifikasi secara mendalam.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.