Menurut Yasin, para ulama sejak lama telah mengingatkan agar politik ditempatkan sebagai alat perjuangan, bukan tujuan organisasi. Ia menegaskan pentingnya menjaga jarak kritis dengan kekuasaan agar NU tetap menjadi jam'iyah diniyah ijtima'iyah.
Lalu, Sekretaris Konsorsium Risalah Mlangi, Gus Mustafid, memaparkan sejumlah tantangan yang dinilai tengah dihadapi NU menjelang Muktamar. Di antaranya melemahnya posisi Syuriah sebagai otoritas moral organisasi, kaburnya batas antara otoritas ulama dan kepentingan politik praktis, berkembangnya teknokrasi organisasi yang dinilai kurang berpijak pada nilai-nilai jam'iyah, hingga persoalan regenerasi ulama organisatoris.
"Profesionalisme penting, tetapi jika tanpa supremasi moral ulama hanya melahirkan organisasi yang bergerak cepat namun kehilangan ruhnya," ujarnya.
Dalam forum tersebut juga muncul pandangan bahwa Muktamar ke-35 perlu menjadi momentum penyegaran kepemimpinan PBNU. Sejumlah peserta menilai organisasi membutuhkan figur yang mampu menjadi pemersatu dan menjembatani berbagai dinamika internal yang berkembang.
"Untuk mengembalikan marwah organisasi dan tercipta supremasi ulama dalam kepemimpinan NU, butuh tokoh ulama yang alim, independen, santun, sejuk, tidak terlibat konflik dan mampu menjadi pemersatu," ujar salah seorang peserta asal Surakarta.