BANDUNG - Besarnya arus pekerja migran asal Jawa Barat (Jabar) masih dibayangi berbagai persoalan, mulai dari praktik penempatan ilegal, keterbatasan keterampilan dan kemampuan bahasa, hingga minimnya pendampingan setelah kembali ke Tanah Air. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam perlindungan pekerja migran, tetapi juga menghambat optimalisasi potensi ekonomi yang mereka hasilkan bagi keluarga maupun daerah.
Menjawab tantangan tersebut, DPW Partai Perindo Jawa Barat meluncurkan program aksi nyata Go Jabar - Pekerja Migran Naik Kelas. Program ini dirancang untuk memperluas akses kerja ke luar negeri sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di pasar kerja global.
Ketua DPW Partai Perindo Jabar, Rifqi Ali Mubarok mengungkapkan, program tersebut merupakan upaya menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat yang ingin bekerja di luar negeri secara profesional dan terlindungi.
"Perindo hadir bukan hanya memberikan harapan kerja, tetapi membuka jalan ke dunia kerja yang aman, legal, profesional dan sejahtera. Kami ingin masyarakat Jawa Barat memiliki kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan taraf hidup melalui akses kerja global yang berkualitas," ujar Rifqi, Senin (15/6/2026).
Sebagai bentuk komitmen, peluncuran program ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara DPW Partai Perindo Jabar dan PT Nembongan Karya Agung-LPK Java Hospitality School (JHS) Purwakarta. Kerja sama tersebut membuka akses pendidikan dan pelatihan kerja luar negeri yang terjangkau, sekaligus membangun jalur penempatan pekerja migran ke Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia sesuai prosedur yang berlaku.
Sementara itu, Ketua Program Aksi Nyata DPW Partai Perindo Jabar, Dian Ciptadi menjelaskan, Go Jabar disusun secara terukur dan berkelanjutan agar pekerja migran tidak hanya memperoleh pekerjaan, tetapi juga memiliki daya saing yang lebih kuat di tingkat global.
"Kami tidak hanya menyiapkan masyarakat untuk bekerja di luar negeri, tetapi membangun kapasitas mereka melalui pelatihan keterampilan, penguatan karakter, pendidikan bahasa, pendampingan administrasi, serta perlindungan selama proses penempatan. Tujuannya agar pekerja migran Jawa Barat benar-benar naik kelas dan memiliki daya saing global," tutur Dian.
Pada tahap awal, program ini menargetkan penempatan 1.000 pekerja migran Indonesia melalui skema penempatan resmi yang terintegrasi dengan pelatihan dan pendampingan. Target tersebut akan diawali dengan peluncuran Sekolah Migran Perindo sebagai pusat pembinaan calon pekerja migran, kemudian dilanjutkan dengan pendataan, rekrutmen, pelatihan keterampilan kerja, pendidikan bahasa asing, hingga fasilitasi penempatan kerja ke negara tujuan.
Program ini juga menyediakan pendampingan administrasi dan perlindungan hukum untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai prosedur. Setelah masa penempatan berakhir, para purna pekerja migran akan mendapatkan pendampingan ekonomi dan kewirausahaan untuk mendorong lahirnya usaha baru serta memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.
Lalu, Ketua Go Jabar, Dedi Sopiandi menegaskan, bahwa program tersebut tidak hanya berorientasi pada penempatan tenaga kerja, tetapi juga membangun ekosistem pekerja migran yang produktif dan berkelanjutan.
"Ini adalah gerakan sosial untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kami ingin menciptakan ekosistem pekerja migran yang profesional, terlindungi dan produktif. Bahkan setelah kembali ke Tanah Air, mereka diharapkan mampu menjadi pelaku usaha, membuka lapangan kerja baru dan menjadi agen pembangunan di daerahnya masing-masing," kata Dedi.
Melalui edukasi, pelatihan dan penempatan yang sesuai prosedur, program ini diharapkan mampu menekan praktik penempatan ilegal, eksploitasi tenaga kerja, serta tindak pidana perdagangan orang (TPPO), sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi warga Jabar di pasar global.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.