Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah

Rahman Asmardika , Jurnalis-Rabu, 17 Juni 2026 |08:43 WIB
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Ilustrasi.
A
A
A

KINSHASA - Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) saat ini berpotensi menjadi lebih mematikan daripada wabah terburuk yang pernah tercatat, yang menewaskan lebih dari 11.000 orang, kata kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC).

Jumlah kasus yang dikonfirmasi di negara tersebut saat ini telah meningkat menjadi 837, termasuk 196 kematian, menurut data pemerintah pada Selasa (16/6/2026).

“Jika kita tidak segera menghentikan wabah ini, situasinya akan lebih buruk daripada yang terjadi di Afrika Barat dan Kongo timur,” kata Direktur Jenderal CDC Afrika, Jean Kaseya dalam pertemuan virtual para pemimpin Afrika dan donor internasional di Burundi pada Selasa.

Kaseya mengatakan puluhan ribu orang yang mungkin terpapar Ebola belum dilacak atau dihubungi.

“Pelacakan kontak adalah indikator utama dan masalah besar. Kita kehilangan lebih dari 26.000 orang, dan kita tidak tahu di mana mereka berada, dan kita tidak tahu apakah mereka menulari orang lain,” ujarnya sebagaimana dilansir Al Jazeera.

Seorang pejabat Palang Merah mengatakan bahwa epidemi tersebut belum mencapai puncaknya di negara itu.

Respons terhadap wabah ini terhambat oleh kurangnya pusat perawatan dan penolakan masyarakat terhadap langkah-langkah kebersihan yang ketat. Para pejabat kesehatan mengatakan bahwa, lebih dari sebulan sejak wabah dinyatakan, skala sebenarnya masih belum diketahui.

Jenazah korban Ebola sangat menular setelah kematian, dan penguburan tradisional yang tidak aman—di mana anggota keluarga menangani jenazah tanpa peralatan pelindung yang memadai—merupakan pendorong utama penularan.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement