Ia mengungkapkan, tim Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah melakukan penyelidikan geokimia di Gunung Lawu pada 2021 dan 2023.
Hasil penelitian menunjukkan gas di Kawah Candradimuka terdiri atas uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S), sulfur dioksida (SO2), amonia (NH3), nitrogen (N2), dan hidrogen (H2). Menurut Lana, komposisi tersebut merupakan gas vulkanik yang lazim ditemukan pada gunung api aktif.
Selain itu, hasil pengukuran suhu di Kawah Candradimuka berkisar antara 90,8 hingga 92 derajat Celsius.
“Hasil pengukuran suhu di Kawah Candradimuka menunjukkan nilai 90,8–92 derajat Celsius yang mengindikasikan tidak terjadi kenaikan lava ke permukaan,” tegasnya.
Lana menambahkan analisis kimia gas dan sampel air panas di sekitar Gunung Lawu memang menunjukkan aktivitas magmatisme masih berlangsung. Namun, hasil pemantauan tidak menemukan perubahan signifikan pada komposisi kimia air maupun gas vulkanik yang dapat mengindikasikan adanya kenaikan fluida menuju permukaan.
“Dari hasil analisis dan beberapa frekuensi pengambilan sampel menunjukkan tidak terjadi perubahan komposisi kimia air dan gas vulkanik yang signifikan yang mengindikasikan tidak adanya kenaikan fluida ke permukaan Gunungapi Lawu sebagaimana ditulis dalam narasi hoaks di media sosial,” pungkasnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.