Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Dorong Prabowo Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Great Institute: Indonesia Harus Lebih Aktif Pascakonflik AS-Iran

Awaludin , Jurnalis-Rabu, 08 Juli 2026 |07:25 WIB
Dorong Prabowo Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Great Institute: Indonesia Harus Lebih Aktif Pascakonflik AS-Iran
Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Syahganda Naninggolan (foto: dok ist)
A
A
A

FGD juga menyoroti pengalaman Iran yang mampu bertahan menghadapi embargo dan tekanan internasional selama puluhan tahun. Menurut peserta diskusi, ketahanan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan negara tidak hanya bergantung pada kemampuan militer, tetapi juga pada kemandirian ekonomi, teknologi, energi, industri pertahanan, serta kohesi sosial masyarakat.

Atas dasar itu, GREAT Institute menilai Indonesia perlu memperkuat ketahanan nasional secara menyeluruh, mulai dari sektor pertahanan, energi, pangan, fiskal, informasi, maritim, hingga penguasaan teknologi strategis agar mampu menjalankan politik luar negeri bebas aktif secara lebih berwibawa.

Selain diplomasi antarpemerintah, forum juga mendorong penguatan hubungan antarmasyarakat (people-to-people diplomacy). Pendekatan tersebut dinilai penting untuk membangun kepercayaan, memperluas jejaring internasional, sekaligus meningkatkan posisi tawar Indonesia di berbagai kawasan.

Syahganda Naninggolan pun menyampaikan tiga rekomendasi utama kepada pemerintah. Pertama, Presiden Prabowo diharapkan dapat menunjukkan penghormatan diplomatik kepada Iran melalui kehadiran pada momentum penting, termasuk pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, atau melakukan lawatan resmi ke Iran.

"Dan yang kedua, hubungan Indonesia dan Iran perlu terus diperkuat sejalan dengan semangat solidaritas yang telah terbangun sejak Konferensi Asia Afrika. Lalu ketiga, Indonesia didorong membangun kerja sama strategis dengan Iran dan Turki sebagai bagian dari upaya membentuk poros kerja sama baru yang dapat menjadi alternatif kekuatan dunia Islam," pungkasnya.

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah akademisi, diplomat, peneliti, ekonom, dan pakar geopolitik, di antaranya Nasir Tamara, Dian Wirengjurit, Teguh Santosa, Anton Permana, Dina Sulaeman, Bursah Zarnubi, Fitra Faisal, Rizal Darma Putra, Zaman Syah, Abdullah Rasyid, serta peserta dari berbagai kalangan.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement