Ia menuturkan, dalam KUHAP baru, penahanan terhadap tersangka hanya dapat dilakukan berdasarkan alasan tertentu, seperti dikhawatirkan melarikan diri, menghilangkan barang bukti, atau mengulangi tindak pidana.
"Kalau misalnya ditetapkan ya orang yang ditetapkan ditahan kan bisa melakukan perlawanan ke praperadilan. Jadi KUHAP baru ini sudah begitu, tidak begitu menekankan lagi pada penahanan, kecuali memang dirasakan perlu," imbuh dia.
Menurut Yusril, KUHAP baru lebih mengedepankan perlindungan hak asasi manusia sehingga penyidik dituntut lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan penahanan.
"Sekarang ini KUHAP baru agak soft, lebih menjunjung tinggi nilai-nilai HAM dan karena itu tidak sembarangan penyidik itu melakukan penahanan," kata Yusril.
"Jadi tiap langkah penahanan, kalau dulu ditahan ya udah nyerah, sekarang ditahan bisa dilawan di praperadilan. Jadi saya kira ini langkah positif sesudah berlakunya KUHAP," imbuh dia.
Diketahui, Kejaksaan Agung belum melakukan penahanan terhadap eks Jampidsus Febrie Adriansyah meski telah berstatus tersangka. Sementara itu, tersangka lainnya, Don Ritto, telah ditahan dan diserahkan pada Jumat (17/7/2026) bersama barang bukti kepada Kejaksaan Agung untuk proses hukum lebih lanjut.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.