Pekan lalu, sejumlah media melaporkan bahwa Trump memutuskan untuk tidak melancarkan serangan besar-besaran lagi di Iran, sebagian karena para penasihat militernya telah memberikan peringatan mengenai kondisi stok senjata AS.
Seorang pejabat AS membantah laporan tersebut, dengan mengatakan bahwa Trump memilih untuk tidak melanjutkan serangan lain karena adanya tekanan dari negara-negara Teluk.
Pekan lalu, CSIS menerbitkan laporan yang memperkirakan bahwa antara bulan Februari dan Juli, sekitar 65 persen rudal pencegat Patriot telah digunakan, dan jumlah rudal pencegat balistik THAAD dalam persediaan AS setidaknya 38 persen lebih rendah dibandingkan saat awal perang. Patriot dan THAAD adalah sistem yang mendeteksi serta menghancurkan rudal yang datang, dan termasuk yang paling efektif dalam persenjataan negara tersebut.
AS juga telah menghabiskan sedikit kurang dari separuh persediaan global rudal jelajah Tomahawk—yang umumnya diluncurkan dari kapal—seince awal perang.
Tomahawk merupakan senjata angkatan laut yang diluncurkan dari kapal perusak, kapal penjelajah, dan kapal selam; senjata ini telah lama menjadi sarana utama matra laut untuk menyerang target dengan pertahanan kuat tanpa membahayakan keselamatan pilot.
Raytheon, sebuah unit dari RTX, telah mencapai kesepakatan awal berdurasi beberapa tahun dengan Pentagon untuk meningkatkan produksi Tomahawk—serta menambah produksi amunisi lainnya—di tengah upaya Washington untuk memulihkan kembali persediaan senjatanya.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.