“Ketika satwa dan manusia menunjukkan gangguan kesehatan dalam wilayah dan waktu yang sama, datanya harus dibaca secara bersama. Inilah makna nyata pendekatan One Health,” jelasnya.
Dalam pendekatan One Health, informasi mengenai kualitas udara, kesehatan manusia, kondisi satwa, perubahan habitat, dan lingkungan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Seluruh data tersebut perlu dihubungkan agar pemerintah dan para ahli dapat mengenali ancaman lebih cepat.
Peran dokter hewan, lanjut Mirjawal, bukan hanya mengobati satwa yang sakit. Dokter hewan juga perlu membaca perubahan kesehatan satwa sebagai tanda awal adanya tekanan lingkungan dan potensi ancaman bagi kehidupan yang lebih luas.
“Satwa liar tidak dapat menyampaikan bahwa udara yang mereka hirup sudah berbahaya. Kondisi tubuh dan perubahan perilaku merekalah yang berbicara. Kita harus mampu membaca tanda-tanda itu sebelum semakin banyak satwa dan manusia menjadi korban,” katanya.
Mirjawal mendorong penguatan surveilans bersama yang melibatkan sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, lingkungan, konservasi, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat.
“Kematian Sampurna harus menjadi peringatan bersama. Melindungi kesehatan satwa liar juga berarti menjaga kesehatan ekosistem dan melindungi manusia,” pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.