"Padahal kalau kita berkaca pada realitas yang mungkin muncul, sebetulnya tidak akan mungkin Seskab Teddy mengusir pejabat LRT sementara agenda Presiden bersama LRT. Itu saya kira sesuatu yang mustahil," ujarnya.
Dedi menjelaskan pejabat LRT tersebut hanya dipindahkan posisinya untuk memberikan ruang. "Tapi hanya memindahkan posisi agar ada ruang bagi Pak Prabowo dan juga salah satu penumpang yang disabilitas itu, Prof. Itu kan tindakan-tindakan momentum, bukan tindakan formal, bukan disposisi," kata Dedi.
Menurut Dedi, pengaturan tersebut lebih tepat dipahami sebagai inisiatif personal Teddy karena dirinya melekat dan berada dalam situasi yang sama dengan Presiden Prabowo.
"Artinya, karena Teddy melekat dan berada dalam situasi yang sama dengan Presiden, kemudian secara inisiatif dan personal mengatur siapa yang boleh ada di ruangan bersama Presiden, siapa yang harus didahulukan, dan lain-lain, itu saya kira adalah inisiatif personal Teddy sebagai orang dekat Presiden, bukan inisiatif Teddy sebagai Seskab," tuturnya.
Dedi menegaskan, tindakan Teddy dalam video tersebut tidak berkaitan dengan kewenangan formal Seskab. Ia menilai pengaturan yang dilakukan Teddy merupakan respons situasional untuk menata kondisi di sekitar Presiden selama perjalanan menggunakan LRT.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.