Daryono menjelaskan gempa dapat terjadi pada kedalaman dangkal, menengah, hingga dalam. Gempa berkedalaman menengah hingga dalam umumnya berkaitan dengan deformasi lempeng yg menunjam ke dalam mantel. "Sementara itu, gempa dangkal cenderung menghasilkan guncangan lebih kuat di dekat sumbernya, terutama jika terjadi dekat kawasan permukiman," ujarnya.
Daryono juga mengungkapkan banyaknya gempa besar dalam satu tahun bukan bukti bahwa Bumi sedang mengalami peningkatan aktivitas tektonik yang tidak normal. Jumlah gempa dapat berfluktuasi secara alamiah dari tahun ke tahun. "Untuk memastikan adanya peningkatan aktivitas seismik secara signifikan diperlukan analisis statistik katalog gempa jangka panjang, bukan sekadar menghitung jumlah kejadian dalam satu tahun."
Gempa besar yang terjadi di berbagai negara juga tidak otomatis saling berkaitan. Setiap wilayah memiliki sistem tektonik dan kondisi akumulasi tegangan yang berbeda. Kejadian gempa yang berdekatan waktunya tidak cukup menjadi bukti adanya hubungan sebab-akibat.
"Karena itu, rentetan gempa besar di berbagai belahan dunia tidak dapat dijadikan dasar untuk memprediksi akan terjadinya gempa besar berikutnya," kata Daryono.
Bagi Indonesia, kata Daryono, rangkaian gempa besar dunia ini merupakan pengingat penting bahwa ancaman gempa merupakan kenyataan geologis yang harus dihadapi. Indonesia berada pada pertemuan lempeng-lempeng tektonik aktif sehingga memiliki potensi gempa kuat dan tsunami di berbagai wilayah.
"Kita belum mampu memprediksi secara tepat kapan dan di mana gempa besar akan terjadi, tetapi kita telah memiliki pengetahuan ilmiah untuk mengenali kawasan rawan dan mengurangi risikonya," katanya.