YOGYAKARTA – Perkembangan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak lepas dari perkembangan kaum Tionghoa di sana. Jika melihat jejak yang ada, sampai saat ini masih ada sejumlah lokasi di Yogyakarta yang dikenal dengan pecinan, yaitu Ketandan, Pajeksan, Patuk, dan sejumlah lokasi lainnya.
Melihat perkembangan warga Tionghoa di Yogyakarta tidak bisa lepas dari Kampung Ketandan yang tepat berada di sebelah utara Pasar Beringharjo. Berbeda dengan pecinan lainnya, saat masuk kampung ini memang tidak begitu kental nuansa etnis Tionghoa. Hanya sebatas hiasan dengan huruf mandarin dan ada tugu yang dibentuk dengan konsep Tionghoa.
Salah seorang tokoh Tionghoa di Ketandan, Tjundaka Prabawa mengungkapkan, kawasan Ketandan tidak lepas dari sejarah Tan Jin Sing antara tahun 1760-1831. Dia merupakan tokoh Tionghoa yang diangkat sebagai bupati dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secadiningrat.
Menurut Tjundaka Prabawa, dari penelusurannya Tan jin Sing mendapatkan rumah yang saat ini disebut wilayah Ketandan. "Saya menelesuri dari sisi etnografi karena kebetulan saya penyuka fotografi etnografi," ucapnya saat ditemui Okezone di rumahnya, Jumat 5 Februari 2016.
Menurutnya, dari penelusuran yang dilakukannya di Belanda, diketahui ada sebuah peta Yogyakarta pada masa Tan Jin Sing hidup. Saat itu ada sebuah rumah dengan arsitektur Jawa, Eropa, dan China milik Tan Jin Sing sepanjang sekira 700 meter.