Deki Andriansyah (33) yang merupakan fungsional PSBN Wyataguna merupakan pembuat alat tersebut. Ia membuat alat itu tanpa belajar pada siapapun. Ia pun menyebut penggunaan alat tersebut satu-satunya hanya ada di Indonesia di PSBN Wyataguna.
"Saya belajarnya otodidak. Rambu suara ini dibikin selama sebulan. Dipasangnya sendiri sudah sekira empat bulan ini," kata Deki.
Dijelaskannya, rambu suara itu menggunakan sensor cahaya agar bisa berfungsi. Secara otomatis, alat itu akan berbunyi dari pukul 07.00-17.00 WIB. "Setelah itu otomatis mati, dia baru nyala lagi besok paginya sampai sore," ucapnya.
Deki yang juga penyandang tunanetra itu mengatakan, dipasangnya alat itu adalah keinginan Kepala PSBN Wyataguna. Tujuannya agar siswa tunanetra di lokasi tidak lagi nyasar. Sebab selama ini banyak yang nyasar saat akan menuju ke berbagai tempat di lokasi.
"Apalagi (siswa) yang baru di sini memang banyak yang nyasar karena untuk pemahaman mereka untuk hapal area di sini butuh waktu tiga minggu sampai tiga bulan," jelasnya.