Sutopo merincikan, kerugian Rp5,04 triliun tersebut berasal dari sektor permukiman Rp3,82 triliun, infrastruktur Rp7,5 miliar, ekonomi produktif Rp432,7 miliar, sosial budaya Rp716,5 miliar, dan lintas sektor Rp61,9 miliar.
“Kerusakan dan kerugian terbanyak adalah sektor permukiman yang kenyataan puluhan ribu rumah penduduk rusak berat, bahkan banyak yang rata dengan tanah,” jelasnya.
Secara wilayah, Sutopo memaparkan, kerusakan dan kerugian akibat gempa di NTB paling banyak adalah di Kabupaten Lombok Utara yang mencapai lebih dari Rp2,7 triliun. Berikutnya Kabupaten Lombok Barat mencapai lebih dari Rp1,5 triliun, Lombok Timur Rp417,3 miliar, Lombok Tengah Rp174,4 miliar, dan Kota Mataram Rp242,1 miliar.
“Dampak kerusakan dan kerugian ekonomi di Bali masih dilakukan perhitungan,” katanya.
Ia mengatakan, kerusakan dan kerugian ini sangat besar. Apalagi jika nanti data sudah terkumpul semua, ia melanjutkan maka jumlahnya akan lebih besar.