“Ada munajat 212 jadi politik identitas memang cukup membuat pak Jokowi tidak populer, sentimen kemana-mana, sehingga elektabilitasnya agak sedikit merosot 1 dan 2 persen. Tapi setelah Januari hingga Maret melalui 2 debat kandidat yang memang cukup positif yang di debat satu Jokowi naik lagi,” paparnya.
Sedangkan menurut Ikrama Masloman selaku peneliti dari LSI Denny JA menyebutkan perbedaan hasil survei oleh lembaga survei dikarenakan dua faktor, yakni sectional survey dan adanya longitudinal.
“Saya ingin menyampaikan kenapa data beda, ya pertama misalnya kita tahu itu terkenal dengan 2 ayat pertama saja, sectional survey artinya hanya dilakukan sekali. Ada kemudian longitudinal, artinya dia dilakukan untuk melihat tren,” tutup Ikrama. (kha)
(Fetra Hariandja)