KOLOMBO - Dua orang yang masih saudara kandung meledakkan diri dalam serangan teror, Sri Lanka, kemudian salah satu istri pelaku juga melakukan hal yang sama hingga menewaskan dua anak mereka saat polisi menggerebek rumah mereka.
Mengutip Daily Mail, Rabu (24/4/2019) kedua pelaku bernama Ilham Ibrahim dan Inshaf. Mereka meledakkan diri ketika para tamu mengantre untuk sarapan di hotel-hotel Shangri-La dan Cinnamon Grand di Kolombo, ibu kota Sri Lanka.
Salah satu sumber kepolisian menyebutkan, seorang pelaku memberikan alamat palsu saat chek-in di hotel, sedangkan saudaranya memberikan alamat yang asli. Bekal alamat itu, polisi mengerebek rumah pelaku.
Saat Satuan Tugas Khusus menggerebek rumah untuk menyelidiki, Fatima, istri Ilham Ibrahim, meledakkan sebuah bom, membunuh dirinya sendiri dan kedua anaknya.
Tiga polisi turut tewas dalam ledakan itu, dan beberapa anggota keluarga mereka ditahan.
"Itu adalah sel teror tunggal yang dioperasikan oleh satu keluarga," kata penyidik. “Mereka punya dana dan motivasi. Mereka mengoperasikan sel dan diyakini memengaruhi keluarga besar mereka.”
Baca: Momen Pasukan Khusus Sri Lanka Meledakkan Bom Mobil
Baca: Salah Seorang Pelaku Bom Bunuh Diri Sri Lanka Telah Diidentifikasi
Polisi telah mengumpulkan informasi bahwa pelaku telah meradikalisasi keluarga dekatnya.
"Sepertinya mereka terinspirasi oleh kelompok-kelompok teroris asing, tetapi sampai sejauh mana mereka memiliki hubungan langsung masih belum jelas," kata polisi.
Ayah kedua pelaku, Yoonus Ibrahim adalah seorang pengusaha ekspor rempah-rempah yang berpusat di Kolombo.
Penyidik menyampaikan bahwa kedua pelaku anggota utama kelompok Jamaah Thowheeth Nasional (NTJ) Islamis—kelompok yang dianggap pemerintah Sri Lanka bertanggung jawab atas rangkaian bom di negara itu.
Namun belakangan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.
Penyelidik mengatakan bahwa mereka belum mengetahui apakah abang-adik itu saling berhubungan dengan para pengebom bunuh diri lainnya di Sri Lanka.
Negara itu diguncang enam serangan bom. Gelombang serangan pertama terjadi selama kebaktian Paskah yang sibuk di gereja-gereja di kota-kota Kolombo, Negombo dan Batticaloa.
Kemudian bom meledak di tiga hotel mewah di Kolombo; Kingsbury, Shangri La, dan Cinnamon Grand.
Kelompok itu juga merencanakan serangan lain di hotel keempat, tetapi bom gagal meledak atau pelaku memutuskan untuk tidak melakukannya, kata sumber kepolisian.
“Apa yang telah kita lihat dari rekaman CCTV adalah bahwa semua pelaku bom bunuh diri membawa ransel yang sangat berat. Ini tampaknya perangkat kasar yang dibuat di skala lokal,” kata sumber itu.
Serangan bom menewaskan 321 orang, termasuk 39 warga negara asing, dan lebih dari 500 terluka. Sri Lanka telah menyatakan keadaan darurat.
Empat puluh orang ditahan pada Selasa terkait serangan bom bunuh diri. Sementara keberadaan pemimpin NTJ, Zahran Hashmi, tidak diketahui.
Zahran pada 26 Desember 2018 adalah pelaku perusakan patung-patung Buddha di pusat kota Mawanella.
Komunitas Muslim setempat telah mengeluh kepada pihak berwenang tentang Hashmi sejak 2017.
"Dia adalah ancaman bagi Muslim moderat di timur dan kami telah membuat beberapa keluhan," kata seorang pemimpin Muslim kepada AFP.
(Rachmat Fahzry)