Setelah jadi Mantan Presiden, Luhut mengatakan Habibie tidak pernah mencampuri urusan pemerintahan berikutnya dan dengan kesadaran penuh jadi “bapak bangsa” memberi nasihat kepada yang mau mendengarkan, dan berbagi pengalaman dengan siapapun yang mau dapat perspektif lain.
"Saya tahu bahwa Pak Habibie sangat cocok dengan Pak Presiden Joko Widodo, meskipun di depan publik dalam dua kali Pilpres (2014 dan 2019) beliau tidak pernah terlibat secara langsung," kata dia.
Lantas di mana kecocokan mereka berdua? Menurut Luhut, kecocokannya ada pada beberapa hal: Pertama, dalam pandangan mengenai demokrasi Indonesia yang harus ditegakkan.
Kedua, mereka adalah orang yang mau dan sabar mendengar pendapat orang lain. Tidak mudah bagi seorang pemimpin untuk mau dengan sabar mendengar pendapat orang lain. Ketiga, keduanya sama-sama melihat bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi menentukan masa depan bangsa dan harus kita kuasai.
" Saya sendiri berjanji kepadanya untuk tetap memberi perhatian pada salah satu “warisan” Pak Habibie yaitu BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Ketika saya masuk pemerintahan Presiden Jokowi tahun 2015, banyak kali saya mendorong keterlibatan BPPT pada program-program di bawah pengendalian saya yang menyangkut teknologi," ujarnya.
Hampir semua fasilitas peninggalan Habibie di BPPT Serpong dan di Surabaya, terus ditinjau Luhut dan didorong untuk aktif memberi sumbangsih kepada Negara dan Bangsa.
"Selamat jalan Pak Habibie. Sejauh yang saya bisa lakukan dan selama dalam kewenangan, BPPT tetap menjadi andalan saya menyangkut teknologi dan kegunaannya bagi masa depan Indonesia yang lebih baik," tutup Luhut.
(Angkasa Yudhistira)