Saat mengajar di universitas Beijing pada 2014, Tohti ditahan setelah mengkritik tanggapan Beijing terhadap serangan mobil bunuh diri di dekat Lapangan Tiananmen yang dilakukan oleh warga Uighur.
Jaksa penuntut di persidangan menuduh dia terlibat dalam kegiatan separatis, termasuk mempromosikan kemerdekaan bagi Xinjiang di situs webnya, Uighur Online.
Pada saat itu, Human Rights Watch mengatakan, Tohti telah "secara konsisten, berani dan tidak ambigu mengadvokasi secara damai untuk pemahaman dan dialog yang lebih besar antara berbagai komunitas, dan dengan negara".
Baca juga: Mengapa Ketegangan Antara Pemerintah China dan Etnis Uighur Terus Terjadi?
Awal bulan ini, Tohti menerima Hadiah Hak Asasi Manusia Dewan Vaclav Havel Eropa. Dia dianugerahi hadiah karena "memberikan suara seluruh rakyat Uighur".
Apa yang terbaru di Xinjiang?
Xinjiang, yang berbatasan dengan Asia Tengah, ketegangan antara warga Uighur dan etnis Han China semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Uighur adalah minoritas Muslim yang berbahasa Turki.
Khawatir dengan kekerasan separatis di wilayah tersebut, China telah melakukan operasi keamanan besar-besaran. Kelompok-kelompok hak asasi manusia dan PBB mengatakan China telah menangkap dan menahan lebih dari satu juta warga Uighur dan etnis minoritas lainnya di kamp-kamp penahanan yang luas.
China mengatakan mereka membangun "pusat pelatihan kejuruan" yang memberi mereka pekerjaan dan membantu mereka berintegrasi ke dalam masyarakat Tiongkok, atas nama pencegahan terorisme.
Pada bulan Juli, lebih dari 20 negara di Dewan Hak Asasi Manusia PBB menandatangani sebuah surat bersama yang mengkritik perlakuan China terhadap Uighur dan Muslim lainnya.
(Rachmat Fahzry)