JAKARTA - Kapolri Jendral Idham Azis menunjuk Irjen Nana Sujana sebagai Kapolda Metro Jaya untuk menggantikan Irjen Gatot Eddy yang naik sebagai Wakapolri.
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni menilai penunjukkan Irjen Nana sebagai Kapolda Metro Jaya adalah keputusan yang tepat. Mengingat track record Nana yang sudah pernah menduduki berbagai jabatan strategis di Korps Bhayangkara tersebut.
“Jadi sampai Irjen Nana ini terpilih dalam posisi strategis seperti Kapolda Metro Jaya, itu memang karena mereka punya kapabilitas yang sudah teruji, bukan kaleng-kaleng,” kata Sahroni di Kompelks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (23/12/2019).
Sahroni pun menepis adanya anggapan Indonesia Police Watch yang menyebut penunjukkan Irjen Nana sebagai Kapolda Metro Jaya merupakan sebuah bentuk Presiden Jokowi ingin menonjolkan geng Solo melalui pejabat di kepolisian. Meskipun Irjen Nana pernah menduduki jabatan sebagai Kapolresta Solo pada tahun 2010 lalu saat Jokowi menjabat sebagai Wali Kota Solo.
Menurutnya, anggapan ini tidak berdasar dan dapat dipastikan bahwa Kapolri Idham Azis telah memiliki berbagai kriteria profesional yang perlu dipenuhi dalam mengangkat jabatan seseorang.
“Pasti ada kriteria profesionalnya lah, nggak mungkin ujug-ujug diangkat jadi Kapolda Metro Jaya dengan alasan yang sembarangan. Menurut saya, anggapan bahwa Pak Nana ditunjuk sebagai Kapolda Metro karena dirinya pernah menjabat sebagai Kapolresta Solo itu tidak berdasar,” tegasnya.