Alasan lainnya, jalan di Kota Bekasi yang terus mengalami kerusakan disebabkan kemiringan tanah dari bibir pantai hingga Kota Bekasi hanya dua derajat.
Dengan kemiringan itu membuat wilayahnya menjadi rawan banjir. Ditambah mayoritas jalan didominasi oleh jalan aspal yang akan mudah rusak jika sering terendam air.
"Itu sebabnya, ketika satu titik diperbaiki, akan muncul kerusakan di titik lain terutama saat musim hujan seperti saat ini,” kata dia ketika dikonfirmasi Okezone, belum lama ini.
Untuk itu, kata dia, pemerintah sedang mencari metode perbaikan dan menyiapkan perbaikan menyeluruh setelah memasuki musim kemarau mendatang. Karena perbaikan sangat efektif saat tidak hujan.
"Hingga saat ini baru ada 10 titik jalan rusak, tapi kami masih mengindentifikasi jalan rusak di Bekasi," kata dia.
Pasca-banjir menerjang Kota Bekasi pada awal tahun 2020 membuat sejumlah ruas jalan berlubang. Jalan-jalan tersebut rusak karena kondisi aspal yang sudah semestinya diganti.
Sementara itu, Kepala Seksi Pemeliharaan Jalan Bina Marga, Eka Chorid mengatakan, sejauh ini pihaknya masih melakukan pendataan perihal jumlah jalan yang rusak akibat banjir. Pasalnya, pihaknya masih melakukan penyusuran terhadap jalan yang rusak akibat banjir awal tahun 2020 itu.
"Kalau titik-titik sih kiranya masih dihitung ya termasuk berapa KM-nya, karena teman-teman masih mendata, mereka masih kita sebar. Jadi belum semua bisa ke data untuk menghitung itu," kata dia ketika ditemui Okezone di kantornya.
Untuk data sementara, kata dia, titik jalan terparah akibat banjir berada di wilayah Jatiasih. Sementara sisanya tersebar di beberapa titik yakni, Pondok Gede, Pondok Melati dan Jatisampurna.
"Titik-titiknya kalau dilihat dari dampak banjir itu kan terkonsentrasi di Jatiasih itu yang paling banyak mungkin bisa di atas 50 persen sendiri," kata dia.
(Awaludin)