JAKARTA - Menjadi tuan rumah Pesta Olahraga Nasional (PON) ke-20 membangkitkan sejumlah potensi pariwisata di Papua.
Kepingan surga yang ada di ujung paling timur Indonesia itu dikenal banyak destinasi wisata yang beragam dan terlengkap di Tanah Air, mulai dari pantai, pegunungan, hingga makanan khas yang menggugah selera. Berikut destinasi wisata di Bumi Cendrawasih:
Danau Sentani
Danau Sentani menjadi salah satu lokasi diaraknya api obor PON XX di Papua. Selain itu, tempat wisata yang sudah cukup terkenal seantero negeri ini bisa juga dijadikan lokasi wisata bagi atlet maupun masyarakat yang menyaksikan PON tahun ini.
Berdasarkan informasi yang ada di laman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua, Danau Sentani berlokasi di bawah lereng pegunungan Cagar Lama Cyclops dengan luas 245 ribu hektar. Danau ini terluas di Papua dengan terbentang dari kota Jayapura hingga kabupaten Jayapura.
Selain itu, terdapat sekitar 21 gugusan pulau-pulau kecil yang menghuni Danau Sentani. Festival Danau Sentani atau FDS adalah sebuah gelaran yang rutin diadakan di tempat ini setiap Juni. Tujuannya, untuk menggaet wisatawan lokal maupun asing.
Baca juga: Dorong Kemajuan Pariwisata Papua, Begini Strategi Kemenparekraf
Biasanya, FDS diisi oleh tarian adat yang dilakukan di atas perahu, upacara adat, dan tarian perang khas Papua. Lalu adapula makanan khas Papua yang sengaja disuguhkan di FDS. PON diharapkan bisa memajukan kembali wisata di danau Sentani ini.
“Masyarakat di sekitar danau Sentani juga akan merasakan perbaikan kesejahteraan jika potensi pariwisata mampu dimaksimalkan,” kata Wakil Ketua KONI Pusat IV bidang Luar Negeri, Chris John sebagaimana dilansir dari Okezone pada 27 September 2021.
Baca juga: PON 2021 Momentum Promosi Pariwisata Papua, Spot Wisata Tak Hanya Danau Sentani
Kampung Yoboi
Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif Sandiaga Uno menyebut jika PON 2021 ini bisa meningkatkan potensi Kampung Yoboi sebagai destinasi wisata. Menurut Sandi, anak-anak muda di Kampung Yoboi bisa menjadi pelopor dan lokomotif pariwisata Papua.
Desa yang berlokasi di tepi Danau Sentani ini merupakan salah satu dari 50 desa yang masuk dalam daftar Anugerah Desa Wisata Indonesia atau ADWI 2021. Banyak fasilitas menarik yang terdapat di kampung ini seperti apotek terapung, taman baca, dan lapangan olahraga. Sebagai desa wisata, Yoboi juga kerap menghadirkan pertunjukan tokok sagu dan tarian tradisional Papua di atas perahu.
Baca juga: Kemenparekraf Ungkap 5 Fakta Unik PON XX Papua 2021, Apa Saja?
Lembah Baliem
Lembah Baliem adalah sebuah lokasi yang berada di kabupaten Jayawijaya. Seperti danau Sentani, lembah Baliem juga mengadakan festival rutin setiap tahun. Biasanya, dilaksanakan setiap Agustus.
Adapun tujuan yang dilakukan pemerintah kabupaten Jayawijaya adalah untuk mengintroduksi dan melestarikan budaya suku tradisional yang bermukim di lembah Baliem.
Festival ini pun biasanya dimeriahkan oleh beragam pertunjukan tradisional seperti tarian tradisional Papua, lempar tombak rotan pudaran, permainan tombak sikoko, dan balap babi.
Baca juga: Jayapura Bangun Homestay Bangkitkan Gairah Pariwisata
Taman Nasional Teluk Cendrawasih
Satu lagi destinasi wisata yang sangat berpotensi di Papua adalah Taman Nasional Teluk Cendrawasih, yang terletak di Manokwari, Papua Barat.
Mengutip informasi yang ada dalam laman resmi Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih, kawasan ini sangat kaya akan ekosistemnya mulai dari ekosistem darat, mangrove, hutan pantai hingga terumbu karang.
Menurut data yang ada di laman tersebut, setidaknya adal 200 jenis karang. Sementara itu, jenis ikan yang saat ini sudah terdata ada sebanyak 836 spesies dari 80 family. Adapun jenis ikannya adalah ikan mangrove, ikan muara, jenis ikan pelagis dan jenis ikan endemik seperti Hemyscyllium galei dan Cirhilabrus cendrawasih.
Baca juga: Pengusaha Hotel & Restoran di Mimika Tak Menerima Dana Hibah Pariwisata, Kok Bisa?
Berikut Deretan Makanan Khas Papua:
Papeda
Bicara makanan khas Papua, maka tak lengkap rasanya jika tidak menautkan papeda. Menurut keterangan dalam jurnal Melanesia bertajuk ‘Sagu Sebagai Makanan Rakyat dan Sumber Informasi Budaya Masyarakat Inanwatan: Kajian Folklore non Lisan’, papeda memiliki bentuk seperti gel.
Papeda dibuat dengan cara memanaskan suspensi aci sagu hingga terbentuk gelatanisasi. Setelah itu, aci sagu diaduk dengan sedikit campuran air dingin hingga cukup kental.
Suspensi itu kemudian disiram dengan air panas sembari diaduk hingga mengental. Makanan ini biasanya disantap dengan didampingi lauk, seperti ikan, kelapa, sayuran, daging dan lainnya.
Baca juga: 29 Orang Positif Covid-19 di PON XX Papua 2021
Udang Selingkuh
Hidangan lain yang identik dengan Papua adalah udang selingkuh. Biasanya, makanan ini ditemui di Wamena. Udang selingkuh, adalah jenis udang yang berhabitat di sungai Baliem.
Hewan ini diberi nama udang selingkuh, lantaran capit yang dimilikinya serupa dengan kepiting. Cerita yang beredar di masyarakat, udang ini adalah hasil perselingkuhan antara udang dengan kepiting.
Biasanya udang ini diambil langsung oleh masyarakat sekitar dan dijual ke pasar. Konsumennya adalah mereka yang memiliki usaha restoran dan rumah makan, untuk selanjutnya diolah.
Udang selingkuh umumnya diolah dengan cara digoreng atau direbus. Akan tetapi, masyarakat setempat juga gemar mengolah udang ini dengan bumbu saus asam manis. Udang selingkuh memiliki rasa daging yang menyerupai lobster. Sementara itu, hampir seluruh bagian tubuhnya bisa dimakan, kecuali kepala.
Baca juga: Eco Wisata Mangrove Perketat Prokes, Ratusan Masker Gratis Disiapkan bagi Pelancong
Sate Ulat Sagu
Makanan asli Papua lain yang bisa dicicipi oleh atlet ataupun wisatawan saat perhelatan PON adalah sate ulat sagu. Seperti namanya, sate ini memang berbahan dasar ulat sagu.
Masyarakat mendapatkan ulat sagu dari pohon sagu yang dipotong dan dibiarkan membusuk. Makanan ini rupanya kaya akan protein dan sangat dianjurkan dimakan oleh para penderita diabetes. Selain disate, ulat sagu bisa disantap pula dengan cara digoreng.
Baca juga: Jelang PON Papua, Yuk Intip Deretan Spot Selfie Menarik di Jayapura
Awalnya, ulat sagu dimakan oleh suku Kamoro dalam acara pemberian nama anak laki-laki yang baru saja lahir. Ulat sagu dihidangkan dengan kerang dan campuran tepung sagu, serta dibungkus dengan daun sagu berukuran cukup panjang.
(Fakhrizal Fakhri )