"Begini tulisannya, setelah menerima dan setuju Rp 10 juta dari Pertamina Patra Niaga, bahwa saya dan ahli waris menyatakan dengan diterimanya bantuan ini maka kami tidak akan mengajukan gugatan maupun tuntutan lain kepada Pertamina Group," paparnya.
Melihat hal tersebut, kemudian Iriyanto merasa dijebak oleh Pertamina, sementara adiknya merasa diserang secara psikologis oleh perusahaan pemilik depo BBM yang terbakar itu. Padahal saat itu keluarga sedang dalam kondisi diselimuti duka.
"Adik saya diserang secara psikologis, kondisinya lagi lelah mental dan fisik, ditambah nggak punya duit, kondisinya juga lagi dorong jenazah ibu saya menuju mobil, langsung dikasih duit," ucap Iriyanto.
Atas tindakan dan keluhan yang dialaminya tersebut, Iriyanto mengaku sudah melapor polisi atas hal ini dan berharap ke depannya pihak PT Pertamina lebih memperhatikan keluarga korban kebakaran.
(Nanda Aria)