Prabowo juga menyinggung negara-negara Barat yang disebutnya sering mengajarkan soal hak asasi manusia (HAM) kepada Indonesia. Dengan nada sindiran, ia menyebut istilah Jawa “ngejarkoni” — bisa mengajarkan, tetapi tidak bisa menjalankan.
Lebih lanjut, Prabowo menyebut bahwa dahulu TNI kerap menjadi sasaran kritik, dan kini giliran Polri. Ia meminta aparat tetap bersabar karena hal tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada bangsa dan negara.
"Ya tabah lah, jadi sasaran bulan-bulanan, nggak apa-apa. Itu risiko. Yang penting niat baik, pengorbanan untuk bangsa dan negara," katanya.
Prabowo juga menegaskan bahwa jika ada oknum dalam institusi yang melakukan kesalahan, maka yang harus ditindak adalah individu tersebut, bukan membebankan kesalahan kepada seluruh institusi.
Ia mengibaratkan, jika ada murid yang berbuat salah di sebuah sekolah, bukan berarti kepala sekolah harus dicopot atau sekolahnya ditutup.
Dalam kesempatan itu, Prabowo kembali berpesan kepada pimpinan Polri agar kuat menghadapi tekanan, termasuk di media sosial.
"Kau dikasih bintang di pundak untuk tahan banting, tahan maki-maki, tahan serangan, apalagi di sosmed. Sosmed itu banyak buzzer. Jadi kita harus tegar," ujarnya.
Prabowo menyatakan kebanggaannya atas capaian yang telah diraih dan meminta jajaran Polri terus membuktikan kinerja kepada masyarakat.
(Awaludin)