JAKARTA – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan tawaran bagi negara-negara Eropa dan Arab untuk memperoleh akses bebas hambatan melintasi Selat Hormuz, dengan syarat mengusir diplomat Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Pejabat militer menyatakan bahwa otoritas penuh dan kebebasan melintasi jalur air tersebut akan dijamin bagi negara mana pun yang bersedia mengusir duta besar dari dua negara agresor itu.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasar energi internasional, menghubungkan produsen minyak Timur Tengah dengan seluruh dunia. Saat ini, selat tersebut menangani sekitar 20 persen pengiriman minyak harian dunia. Artinya, setiap gangguan di wilayah itu akan berdampak langsung pada rantai pasokan global. Dengan tawaran ini, Iran berupaya mengalihkan tekanan diplomatik kepada negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Menurut siaran tersebut, usulan ini merupakan balasan langsung terhadap langkah strategis Amerika Serikat baru-baru ini. Pejabat militer Iran menuduh Presiden Trump mempertimbangkan untuk mengambil alih Selat Hormuz demi mengamankan jalur pelayaran komersial secara sepihak.
Dengan menghadirkan jaminan alternatif bagi pengiriman barang asing, Teheran berusaha memaksa pemerintah sekutu maupun non-blok ke posisi diplomatik yang sulit. Ultimatum itu menuntut agar ibu kota negara asing memilih antara mempertahankan hubungan diplomatik dengan Washington dan Israel, atau memastikan transit pasokan energi vital mereka tetap aman melalui Teluk.
Pernyataan IRGC menegaskan bahwa hanya negara-negara yang mematuhi aturan ini yang akan terhindar dari ancaman terhadap pengiriman barang.
Iran baru saja menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru, menggantikan ayahnya Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026. Kepemimpinan baru ini tampaknya tidak berminat mengurangi tuntutan terhadap AS dan menolak gencatan senjata.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa konflik dengan Iran akan segera berakhir. Namun, Iran tampaknya tidak mengindahkan pernyataan tersebut dan terus melakukan pengeboman harian terhadap Israel serta aset-aset AS di negara tetangga.
Serangan berlanjut itu bertentangan dengan pesan Gedung Putih mengenai durasi perang. Trump bersikeras bahwa resolusi sudah dekat, bahkan menyebut telah mencapai kemenangan dalam banyak hal.
Langkah awal Mojtaba Khamenei menunjukkan bahwa Teheran bersiap menghadapi pertempuran lebih panjang, membuat pelayaran global rentan terhadap perselisihan yang belum terselesaikan.
(Rahman Asmardika)