Prabowo: Pemimpin Indonesia Tidak Bodoh, Naif atau Penakut!

Binti Mufarida, Jurnalis
Jum'at 17 Juli 2026 08:16 WIB
Presiden Prabowo Subianto (Foto: Binti M/Okezone)
Share :

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia sudah semakin dewasa untuk menentukan arah kebijakannya. Bahkan, Prabowo menyebut pemimpin Indonesia bukan pemimpin yang bodoh, naif, ataupun penakut.

Penegasan ini diungkapkan Prabowo melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, saat meresmikan proyek di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, pada Kamis (16/7/2026).

Mulanya, Prabowo mengatakan lingkungan dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan konflik, ketegangan, bahkan perang di mana-mana. Dia pun mengajak masyarakat agar bersyukur bahwa Indonesia masih dalam keadaan damai dan tidak punya musuh.

“Kita masih bersyukur kawasan kita dalam keadaan damai. Kita bersyukur warisan dari pendiri-pendiri bangsa kita bahwa sesungguhnya Indonesia tidak punya musuh. Kita alhamdulillah sekarang ini kita sudah menjalin hubungan baik dengan semua tetangga kita,” katanya.

“Dan kita bertekad bahwa itu pendirian kita, kita bersahabat dengan semua tetangga-tetangga kita, kita hormati semua negara di dunia, besar, paling besar, kuat, paling kuat maupun yang kecil maupun mungkin yang tidak kuat. Ini adalah karunia kita, ini adalah sesuatu yang kita harus hargai. Dengan kondisi ini kita bersahabat sama semua negara,” paparnya.

“Dalam kondisi ini kita terbuka kepada semua mitra, semua negara yang mau masuk ke Indonesia, mau bermitra sama Indonesia, mau bekerja dengan saling menguntungkan. Ini sikap kita,” tambah Prabowo.

Namun, Prabowo mengingatkan keterbukaan Indonesia terhadap negara mana pun harus dipahami bahwa Indonesia saat ini sudah semakin matang atau dewasa dengan kebijakan-kebijakannya.

“Tapi semua pihak juga harus mengerti bahwa Indonesia sekarang sudah dewasa. Pemimpin-pemimpin Indonesia bukan pemimpin yang bodoh, bukan pemimpin yang naif, bukan pemimpin yang penakut,” katanya.

Prabowo mengatakan masih ada pihak-pihak yang memandang rendah Indonesia dan menganggap keramahan masyarakat sebagai sebuah kelemahan. Bahkan, menurutnya, muncul stereotip yang menyebut masyarakat Indonesia sebagai bangsa yang santai, malas, dan gemar tidur. Padahal, kata dia, kenyataan menunjukkan rakyat Indonesia bekerja keras setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Memang ada pihak-pihak yang selalu memandang rendah bangsa Indonesia, yang selalu menganggap remeh bangsa Indonesia, yang selalu mengejek bangsa Indonesia di belakang punggung kita. Memang mungkin karena kebaikan bangsa Indonesia, keramahtamahan, bahwa bangsa kita begitu ramah, kita dinilai lemah. Kita dibilang bangsa yang santai, kita dibilang bangsa yang malas, bahwa rakyat Indonesia, para pribuminya hobinya tidur,” kata Prabowo.

“Padahal rakyat kita berjuang keras dari hari ke hari untuk mencari kehidupan yang layak. Mereka yang berlayar di laut mencari makan, mencari ikan itu mempertaruhkan nyawa. Di mana-mana rakyat kita kerja keras. Tapi kalau iklim itu begitu panas, ya kearifan nenek moyang mengajarkan kita hindari panas pada saat terik matahari,” tambah Prabowo.

Prabowo juga menegaskan tekad pemerintah mewujudkan agar Indonesia bisa menjadi negara yang modern, seperti bangsa Jepang. Dia juga ingin agar Indonesia menjadi bangsa yang produktif, bisa menghasilkan produk-produk industri.

“Kita punya segala sumber daya untuk itu, kita juga punya kapasitas, anak-anak kita juga tidak kalah pintar. Dan saya sudah merencanakan dan saya sudah melihat rencana-rencana riil, kita bertekad untuk menjadi negara industri, negara modern, dan kita bertekad rakyat kita harus hidup dengan baik, hidup dengan layak,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah membutuhkan penerimaan negara yang kuat untuk membiayai pelayanan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan aparatur negara, serta pembangunan infrastruktur.

“Kita butuh uang untuk bikin pelayanan kesehatan yang terbaik, kita butuh uang untuk membayar gaji-gaji guru sehingga sekolah-sekolah kita juga tidak kalah dengan sekolah-sekolah di luar negeri. Kita butuh uang untuk membayar semua pegawai negeri kita dengan baik, kita butuh uang untuk membangun prasarana yang penting untuk kehidupan yang modern,” pungkasnya.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya