Investor juga melihat kontribusi perusahaan dalam memulihkan lingkungan dan menciptakan dampak positif bagi keberlanjutan.
“Kepatuhan terhadap tata kelola lingkungan yang baik akan memperkuat reputasi perusahaan serta mengurangi risiko praktik greenwashing,”pungkasnya.
Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, Riki Frindos, menambahkan, keanekaragaman hayati merupakan kekayaan terbesar Indonesia yang kerap terabaikan. Menurutnya, perhatian publik masih lebih banyak tertuju pada sumber daya alam nonhayati.
Sumber daya genetik Indonesia disebutnya sebagai ‘tambang emas’ yang tidak akan habis selama dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. “Tapi superdaya non-hayati ini ada batasnya, satu saat akan habis,” tutup Riki.
(Fahmi Firdaus )