Menurut hasil survei, kondisi tersebut merupakan tren yang juga terlihat jika dibandingkan dengan survei Januari 2026. Sebanyak 34,2 persen responden mengaku pendapatannya menurun, sementara lebih dari 36,1 persen masyarakat yang menjalankan usaha mengeluhkan omzet yang lesu.
Situasi itu memperlihatkan adanya tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, terutama terkait pendapatan, kesempatan kerja, harga kebutuhan pokok, serta ketersediaan dana darurat.
Survei FSP BUMN Bersatu menyimpulkan kepuasan terhadap kepemimpinan Prabowo masih tinggi, mencapai 81,3 persen, sementara penilaian terhadap bidang politik, hukum, pendidikan, dan bansos juga berada pada tingkat positif. Di sisi lain, ketakutan terhadap kenaikan harga pangan, sulitnya memperoleh pekerjaan, serta minimnya jaring pengaman finansial menjadi catatan serius bagi kondisi ekonomi masyarakat.
Tingginya kepuasan di bidang politik dan hukum diharapkan dapat memperkuat kepercayaan dunia usaha dan masyarakat sehingga berdampak pada perbaikan perekonomian. Hasil survei juga menunjukkan adanya harapan terhadap pemerintah untuk memperbaiki kinerja ekonomi seiring kuatnya optimisme masyarakat terhadap perbaikan ekonomi makro.
Kendati pandangan masyarakat terhadap prospek ekonomi hingga akhir 2026 mulai lebih hati-hati. Dalam simulasi Pilpres apabila digelar saat ini, Prabowo tetap menjadi tokoh dengan tingkat keterpilihan tertinggi, menunjukkan bahwa di tengah berbagai persoalan ekonomi, persepsi publik terhadap kepemimpinannya masih cenderung positif.
(Arief Setyadi )