Menurut Arwin, kritik tetap penting untuk menjaga kontrol publik terhadap pemerintahan. Namun, kritik tersebut idealnya diarahkan pada substansi persoalan dan didukung bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Arwin juga mengingatkan agar perbedaan pandangan politik tidak berkembang menjadi serangan personal. Ia menilai generasi muda membutuhkan ruang publik yang sehat, terutama di tengah derasnya arus informasi di media sosial.
"Kami sebagai generasi muda berharap ruang publik diisi dengan diskusi yang membangun. Kalau ada bukti, sampaikan secara terbuka dan melalui jalur yang tepat. Kalau belum ada, sebaiknya kita sama-sama menahan diri agar tidak membentuk opini yang keburu-buru," katanya.
Ia menyebut polemik yang terus berulang tanpa kejelasan berpotensi membuat masyarakat mengalami kelelahan informasi. Karena itu, menurutnya, penyelesaian melalui jalur hukum atau institusi yang berwenang akan lebih memberikan kepastian dibandingkan perdebatan tanpa ujung di ruang digital.
Arwin pun berharap seluruh pihak, termasuk Denny Indrayana, tetap mengedepankan komunikasi publik yang konstruktif.
"Kami menghargai semangat kritis Pak Denny sebagai akademisi. Tapi kami juga berharap ke depan diskusinya bisa lebih diarahkan ke substansi dan mekanisme yang jelas, supaya publik mendapat kepastian, bukan sekadar polemik berkepanjangan," pungkasnya.
(Awaludin)