Saat gempa M7,7 terjadi, percepatan tanah meningkat drastis. Durasi guncangan yang berlangsung cukup lama juga merusak ikatan kohesi antarbutir tanah sehingga memicu runtuhan lereng di berbagai titik secara bersamaan.
Daryono menambahkan, gelombang seismik juga mengalami penguatan akibat efek tapak lokal pada lapisan tanah lunak serta fenomena amplifikasi topografi.
Gelombang gempa dapat memantul dan terkonsentrasi di area puncak bukit maupun tebing. Kondisi itu membuat guncangan di bagian atas lereng menjadi lebih kuat dibandingkan wilayah lembah.
“Pada saat yang sama, guncangan siklik yang seketika menghilangkan daya dukung material dan meruntuhkan ribuan ton tanah serta batuan hingga menutupi akses jalan utama,” pungkasnya.
(Awaludin)