Minta Masyarakat Tak Panik, BMKG: Gempa Dahsyat di NTT Perlu Puluhan Tahun Terulang

Binti Mufarida, Jurnalis
Kamis 20 Agustus 2026 13:22 WIB
Evakuasi korban gempa NTT.
Share :

JAKARTA – Masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta untuk tidak panik menyikapi ribuan gempa susulan yang masih terjadi setelah gempa utama berkekuatan magnitudo (M) 7,7 pada 15 Agustus 2026. Pasalnya, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa dengan kekuatan sebesar gempa pekan lalu itu tidak akan kembali terjadi dalam waktu dekat.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa sesar naik di busur belakang Flores membutuhkan waktu panjang untuk kembali mengumpulkan energi hingga mampu menghasilkan gempa dengan kekuatan serupa.

“Diperlukan waktu hingga puluhan tahun agar sesar naik di busur belakang dari Flores ini dapat mengumpulkan energi dan menghasilkan gempa sebesar yang ada sekarang ini, atau bisa lebih besar atau lebih kecil. Jadi diperlukan waktu panjang,” ujar Faisal dalam keterangannya, dikutip Kamis (20/8/2026).

Hingga pukul 17.00 WIB pada 19 Agustus 2026, BMKG mencatat sebanyak 3.055 gempa susulan. Gempa susulan terbesar tercatat berkekuatan M6,2, sedangkan yang terkecil M1,1. Dari ribuan gempa tersebut, sebanyak 88 gempa dirasakan masyarakat.

Faisal mengatakan proses peluruhan gempa susulan masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. BMKG memperkirakan proses tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat minggu.

“Karena ini gempanya cukup besar 7,7 magnitudo, jadi peluruhannya memerlukan waktu kurang lebih 3 sampai 4 minggu ke depan,” katanya.

Faisal menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan terjadinya gempa besar dengan kekuatan serupa dalam beberapa hari atau pekan ke depan. BMKG, kata dia, terus memantau aktivitas kegempaan secara real-time.

 

“Masyarakat tidak perlu khawatir tentang itu, mohon tetap tenang bahwa kita terus memantau kondisinya, insyaallah dalam 3 sampai 4 minggu ke depan itu peluruhan akan terjadi,” ujarnya.

Menurut Faisal, BMKG juga telah menempatkan personel di wilayah terdampak untuk memberikan informasi dan pendampingan kepada masyarakat. Di Pulau Flores terdapat empat Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG yang berada di Labuan Bajo, Ruteng, Maumere, dan Larantuka, serta dua pos di Ende dan Bajawa.

“Ketika terjadi gempa, tim BMKG sudah ada di lokasi dan kita membersamai masyarakat, Forkopimda, segenap tim SAR, TNI-Polri untuk benar-benar memberikan kenyamanan bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto memastikan gempa susulan yang terjadi saat ini memiliki magnitudo lebih kecil dibandingkan gempa utama M7,7.

“Bisa kita pastikan untuk gempa susulan itu kan lebih kecil ya sekarang. Tidak ada gempa susulan yang lebih besar dari gempa utamanya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, gempa M7,7 tersebut sudah mendekati magnitudo maksimum yang dapat terjadi pada kerak dangkal di wilayah tersebut. Potensi maksimum magnitudo pada kerak dangkal di kawasan itu diperkirakan sekitar M7,8.

 

“Jadi seterusnya adalah gempa susulan yang akan menuju ke kestabilan lempeng itu sendiri,” katanya.

BMKG juga memastikan terus memantau potensi tsunami. Wijayanto mengatakan sistem peringatan dini tsunami Indonesia mampu memberikan peringatan kurang dari tiga menit setelah gempa terdeteksi dan memenuhi parameter yang berpotensi menimbulkan tsunami.

“Kita pastikan bahwa dalam waktu dekat tidak akan ada gempa susulan yang bisa mengakibatkan terjadinya tsunami,” pungkasnya.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya