WASHINGTON – Sebuah amunisi Amerika Serikat (AS) kemungkinan besar menghantam langsung sebuah acara pernikahan di Iran pekan lalu setelah melenceng dari target yang telah ditentukan, demikian dilaporkan Washington Post pada Minggu (6/9/2026), mengutip seseorang yang mengetahui operasi tersebut.
Insiden itu terjadi di Kuhestak, Provinsi Hormozgan, di tengah gelombang baru serangan udara yang dilancarkan AS terhadap Iran pada Selasa (1/9/2026). Salah satu amunisi menghantam sebuah rumah tempat berlangsungnya pesta pernikahan, menewaskan setidaknya lima orang dan melukai hampir 70 orang lainnya. Pihak berwenang Iran menyatakan bahwa para korban tewas terdiri dari tiga wanita dan dua anak-anak, masing-masing berusia empat dan 16 tahun.
Ledakan di lokasi pesta tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh hantaman langsung amunisi AS, menurut Washington Post. Angkatan Laut AS menjatuhkan enam bom luncur (glide bomb) yang menyasar sebuah menara komunikasi di kota tersebut; lima di antaranya mengenai target yang ditentukan, namun satu lainnya meleset. Amunisi yang melenceng itu tidak mengenai menara, melainkan dilaporkan menghantam rumah yang terletak sekitar 135 meter (440 kaki) dari lokasi tersebut. Menara komunikasi itu merupakan satu-satunya target yang ditetapkan di kota tersebut selama serangan hari Selasa, ungkap sumber tersebut kepada Washington Post, sehingga menepis kemungkinan bahwa rumah itu diserang secara sengaja atau keliru dianggap sebagai target lain.
Laporan ini sejalan dengan pemberitaan sebelumnya oleh AP, New York Times, Reuters, dan media lainnya, yang mengindikasikan bahwa rombongan pesta pernikahan tersebut terkena senjata berpemandu AS—kemungkinan besar bom luncur JSOW—dan bukan akibat puing-puing atau rudal antipesawat yang tidak berfungsi yang ditembakkan oleh Iran.
Wakil Presiden AS J.D. Vance mengatakan pada Kamis (3/9/2026) bahwa Washington sedang menyelidiki insiden tersebut.
"Kami sedang menyelidikinya karena tentu saja kami peduli. Kami ingin tahu," ujarnya kepada para wartawan. Militer AS menegaskan bahwa mereka tidak menargetkan warga sipil dan tidak bertanggung jawab atas serangan tersebut.