MAGETAN – Prajurit TNI Angkatan Udara (AU), Serda Ahmad Muzammil Farisa (22), meninggal dalam kondisi tak wajar. Keluarga menduga Ahmad menjadi korban penganiayaan oleh sejumlah seniornya saat berada di mes Mabes TNI AU.
Jenazah Serda Ahmad telah dimakamkan di tempat pemakaman umum di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Jumat (11/9) dini hari. Sebelumnya, jasad korban sempat menjalani autopsi di Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta.
Ayah korban, Toni Eko Prasetyo, mengungkap adanya informasi yang diterimanya mengenai dugaan penganiayaan terhadap anak pertamanya tersebut. Menurutnya, peristiwa itu diduga terjadi di mes Mabes TNI AU, Rabu (9/9) pukul 23.00 WIB dan kembali berlanjut Kamis (10/9) pukul 01.00 WIB.
"Saya terima informasi kejadiannya di mes jam 11 malam. Sempat berhenti lanjut jam 1 dini hari, penganiayaan oleh empat orang," ujarnya, Sabtu (12/9/2026).
Toni juga mengaku melihat adanya luka pada tubuh putranya. Dia menyebut terdapat luka seperti benturan pada bagian dagu dan lebam di dada yang menurutnya seperti bekas pukulan. "Lukanya di dagu ada benturan kemudian lebam di dada seperti bekas pukulan," katanya.
Dikatakannya, Serda Ahmad baru sekitar 1,5 tahun bertugas sebagai bintara psikologi di Mabes TNI AU. Prajurit muda ini merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.
Keluarga awalnya menerima informasi bahwa Serda Ahmad Muzammil meninggal akibat kecelakaan pada Kamis (10/9) pagi.
Namun, belakangan keluarga mendapat informasi yang memunculkan dugaan bahwa korban meninggal setelah mengalami penganiayaan.