TIMOR TENGAH SELATAN - Selama 81 tahun Indonesia merdeka, lebih dari 100 kepala keluarga di Kampung Niku, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), masih hidup dalam gulita. Ketiadaan akses penerangan ini berdampak langsung pada terhambatnya pendidikan anak dan aktivitas ekonomi warga setempat.
Merespons kondisi tersebut, Ketua Komisi I DPRD TTS dari Partai Perindo, Marthen Natonis, turun tangan menjembatani harapan masyarakat. Dia menemui Manager PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Soe guna memperjuangkan perluasan jaringan listrik ke wilayah terisolasi itu.
“Harapannya, sekiranya jaringan listrik yang sedang dikerjakan dapat menjangkau empat RT yang ada di Niku. Ini adalah harapan semua masyarakat di Dusun Nambaun,” kata Marthen menjelaskan urgensi pemerataan infrastruktur dasar tersebut, Kamis (24/9/2026).
Bagi warga Kampung Niku, listrik bukan sekadar tiang dan kabel penghantar arus, melainkan penentu masa depan. Akses penerangan sangat vital untuk menghidupkan fasilitas umum seperti gereja, mendukung anak-anak belajar pada malam hari, serta mendorong produktivitas masyarakat.
Hal ini sejalan dengan visi Partai Perindo sebagai partai pro ekonomi yang terus berupaya memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan. Tanpa adanya infrastruktur dasar yang memadai, perputaran roda ekonomi di daerah terisolasi akan sulit berkembang dan berdaya saing.
Sebagai Ketua DPD Partai Perindo TTS, Marthen menegaskan hak warga atas infrastruktur harus diperjuangkan secara nyata sebelum proyek berakhir. Karena itu, dia meminta kebijakan penyesuaian jalur pemasangan listrik agar tidak mengabaikan ratusan keluarga di Niku.
“Saya bertemu dan berkoordinasi dengan Manager PLB ULP Soe untuk bisa dilanjutkan dengan UP2K Kupang. Sekiranya peta jalur rencana pembangunan listrik dapat direvisi,” ujarnya.
Revisi peta jalur menjadi krusial mumpung proyek pembangunan jaringan masih berlangsung di dusun yang sama. Apabila perkampungan ini terlewat dari target pengerjaan saat ini, masyarakat terancam harus menunggu lebih lama lagi dalam kegelapan.
“Kalau tidak sekarang, maka kemungkinan akan membutuhkan waktu yang lama lagi baru bisa mendapatkan akses. Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, sekiranya masyarakat Niku bisa mendapatkan akses listrik,” pungkasnya.
(Arief Setyadi )