Organisasi tersebut juga menyebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendokumentasikan sedikitnya 143 serangan tambahan terhadap layanan kesehatan selama tujuh bulan pertama gencatan senjata.
Kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis terus berlanjut. Berdasarkan data Koordinator Kegiatan Pemerintah Israel di Wilayah Pendudukan (COGAT), sebanyak 69 persen perlengkapan medis yang disetujui untuk masuk ke Gaza pada Januari hingga Mei 2026 tidak sampai ke wilayah tersebut.
Ribuan pasien menunggu evakuasi medis
Laporan tersebut turut menyoroti dampak penutupan perbatasan dan pembatasan yang menghalangi warga Palestina meninggalkan Gaza untuk memperoleh perawatan medis. Kondisi itu menyebabkan sejumlah pasien meninggal dunia ketika menunggu evakuasi.
“Meskipun kebutuhan akan perawatan meningkat, jumlah orang yang pergi untuk mendapatkan perawatan medis jauh di bawah tingkat sebelum perang,” kata laporan tersebut.
Sebelum Oktober 2023, sekitar 50 hingga 100 pasien meninggalkan Gaza setiap hari untuk memperoleh perawatan medis di luar wilayah tersebut.
Sementara itu, Bursh mengatakan lebih dari 20.000 pasien dan korban luka saat ini sangat membutuhkan evakuasi medis agar dapat menjalani perawatan di luar Gaza.
Menurut dia, pengaturan yang memungkinkan sekitar 300 pasien berangkat setiap hari belum diterapkan oleh Israel. Saat ini, hanya sekitar 25 pasien yang diizinkan meninggalkan Gaza setiap hari.
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis pada April menunjukkan lebih dari 18.500 pasien membutuhkan evakuasi medis, termasuk sekitar 4.000 anak-anak.
Bursh mendesak masyarakat internasional mengambil tindakan segera untuk menekan Israel agar mengizinkan obat-obatan dan peralatan medis masuk ke Gaza, memulihkan rumah sakit, serta memungkinkan tenaga medis kembali bekerja. Dia juga meminta agar evakuasi korban luka disetujui sebelum terlambat.