JAKARTA - Jalur Gaza masih belum memiliki rumah sakit yang beroperasi dengan kapasitas penuh hampir setahun setelah gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025. Sistem kesehatan di wilayah Palestina tersebut belum menunjukkan pemulihan berarti, sementara ribuan pasien membutuhkan perawatan medis yang tidak tersedia di Gaza.
Organisasi Dokter untuk Hak Asasi Manusia-Israel menyampaikan, kondisi tersebut dalam laporan yang dirilis pada Kamis. Laporan itu menilai situasi sistem kesehatan Gaza hampir setahun setelah gencatan senjata dimulai.
Organisasi tersebut menyatakan, meskipun jumlah rumah sakit yang kembali beroperasi secara terbatas meningkat, kondisi itu belum menghasilkan pemulihan nyata bagi sistem kesehatan Gaza.
“Jumlah tempat tidur perawatan intensif praktis tidak berubah, kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis penting semakin memburuk, sementara ribuan pasien tetap tidak mendapatkan perawatan penyelamat jiwa yang tidak tersedia di Jalur Gaza,” kata organisasi tersebut, dilansir dari trtworld, Jumat (9/10/2026).
Jumlah tempat tidur perawatan intensif juga nyaris tidak bertambah. Gaza memiliki 103 tempat tidur pada Oktober 2025, sedangkan pada Juli 2026 jumlahnya hanya meningkat menjadi 104. Layanan dialisis ginjal bahkan belum menunjukkan pemulihan.
“Layanan dialisis tersedia di 17 persen fasilitas kesehatan pada Oktober 2025, turun menjadi 12 persen pada Juli 2026, sementara layanan MRI tetap tidak tersedia di wilayah tersebut,” demikian pernyataan organisasi itu.