JAKARTA - Greenpeace Indonesia mengajak masyarakat untuk saling menjaga, dan mendukung dalam menyuarakan aspirasi melalui aksi demonstrasi. Organisasi lingkungan tersebut menilai, aksi protes publik tidak seharusnya bergantung pada segelintir orang yang memiliki akses dan sumber daya.
Ajakan itu disampaikan melalui akun Threads @greenpeaceid. Dalam unggahannya, Greenpeace Indonesia mengakui adanya privilese yang dimiliki sebagian kelompok ketika mengikuti aksi, mulai dari persiapan, dukungan logistik, dokumentasi, hingga pendampingan hukum.
“Karena itu, sebuah aksi protes publik nggak boleh bergantung pada segelintir orang yang punya akses dan sumber daya saja,” tulis @greenpeaceid dalam unggahannya, Selasa (20/10/2026).
“Warga jaga warga,” tulis akun tersebut.
Dalam unggahan yang sama, Greenpeace Indonesia turut mempertanyakan kemungkinan penerapan pagar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), seperti yang terdapat di sekitar Gedung DPR/MPR.
“Apakah setelah ini Bundaran HI akan dipagari juga seperti Gedung DPR/MPR?” demikian pertanyaan yang disampaikan melalui akun tersebut.
Selain itu, Greenpeace Indonesia mengajak masyarakat untuk melanjutkan aksi pada 20 Oktober dengan mengikuti atau memantau demonstrasi di daerah masing-masing. Masyarakat juga didorong untuk mendukung peserta aksi yang turun ke jalan serta menyebarluaskan aspirasi dan tuntutan mereka.
“Jangan biarkan suara rakyat tenggelam di tengah kepengapan yang kian terasa,” tulis @greenpeaceid.
Greenpeace Indonesia juga menyerukan agar masyarakat terus menyuarakan aspirasi dengan lebih lantang dan melibatkan lebih banyak orang.
“Jangan takut, karena masa depan adalah milik kita semua, dan harus kita perjuangkan bersama,” tulis akun tersebut.
Melalui unggahan itu, Greenpeace Indonesia menekankan pentingnya solidaritas, dukungan bersama, dan keberanian masyarakat dalam menyampaikan aspirasi publik.
(Awaludin)