Ketika ramadhan bersua, maka boleh jadi semua muslim di dunia menyambutnya dengan gembira. Karena bulan ini bukan saja bulan di mana segala amal ibadah menjadi dilipat gandakan balasannya (baca: pahala, meskipun bagi saya yang terpenting bukan pahalanya), tapi bulan di mana setiap muslim tak peduli status sosialnya harus sama-sama menjalankan dengan khusyuk dan menahan diri dari segala perbuatan-perbuatan tercela.
Seperti kata ustadz-ustadz yang pernah saya dengan ceramahnya mengatakan bahwa puasa termasuk puasa ramadhan harus menjadi perisai agar yang melaksanakan boleh terlepas dan terlindungi dari segala maksud-maksud perbuatan tak terpuji, sehingga mampu mencapai predikat taqwa sebagaimana target dari perintah ibadah puasa itu sendiri.
Saking meriahnya sambutan terhadap bulan ini, maka geliatnya terasa bahkan seminggu sebelum puasa berjalan. Mulai dari stasiun TV yang beralih acara agak islami-islami dikit, masjid-masjid yang dibenahi agar tampak indah dan sedap dipandang, karena maklum pada bulan ini masjid dipastikan bakalan penuh, meskipun cuma dalam itungan beberapa minggu saja, pedagang di pasar-pasar yang kebanjiran pembeli, pasar juadah yang bermunculan, sampai percetakan yang kebanjiran orderan spanduk dan baliho ucapan selamat berpuasa, jadwal imsakiyah, dan sebagainya.
Apalagi di daerah yang kebetulan bakal melaksanakan pemilihan kepala daerah, sekaligus puasa kali ini bertepatan juga dengan pasca pendaftaran caleg untuk Pemilu 2009.
Karena saya bukan ustadz dan ahli agama, maka dalam tulisan ini saya tidak mengomentari macam-macam tentang hikmah puasa Ramadan, apalagi tentang banyaknya keutamaan berpuasa, manfaat berpuasa, dan sebagainya, tapi betul-betul sekedar menulis tentang fenomena sosial yang tampak saja jika Ramadan tiba.
Semua tampak serba religius ketika ramadhan tiba, karena memang di bulan ini selain ibadah puasa, maka selalu beriringan dengan intensitas peningkatan ibadah-ibadah yang lain pula, tentunya dengan maksud dan tujuan untuk meningkatkan ketaqwaan.
Maka di bulan ini dapat dipastikan angka orang yang membayar zakat cukup tinggi, orang yang berubah dermawan kemudian beramal memberi makan kaum fakir-miskin juga tinggi, acara pengajian tadarusan bersama juga naik drastis. Karena seperti kata ustadz bahwa fungsi puasa juga bukan sekedar menahan haus dan lapar, sebab dengan haus dan lapar itulah seharusnya mengingatkan kepada kaum yang jarang merasakan haus dan lapar untuk ingat kepada kaum yang sering merasakan haus dan lapar. Sederhananya, bulan ini juga merupakan ajang bagi manusia-manusia yang kebetulan 'berpunya' agar tidak 'pelit' harta buat berbagi dan mempunyai rasa kepedulian terhadap saudaranya yang miskin.
Makanya, seringkali dalam tiap ceramah agama yang sering saya dengar, selalu terungkap hendaknya puasa boleh jadi menyadarkan orang-orang kaya agar tersentuh nuraninya. Yaaa…untuk lebih giat beramal-lah, sekali-sekali belajar berzakat, bersadaqah, dan berinfaq. Terlebih-lebih kepada kaum fakir-miskin dan anak-anak yatim yang berada di sekelilingnya.
Sebagai bulan penempaan diri yang bukan saja mengajarkan ibadah ritual tapi juga ibadah sosial, maka seharusnya di bulan ini jangan dijadikan ajang pamer kemewahan dan parade kesombongan.
Kenapa saya katakan demikian, karena terkadang saking salah kaprahnya menyambut dan menjalani puasa ramadhan sampai menyambut Idul Fitri nanti, maka ada sebagian manusia-manusia 'berada' tersebut, malah melakukan agenda pamer kemewahan dan parade kesombongan itu. Seperti mengunjungi dengan niatan menyantuni orang fakir-miskin dan anak yatim, tapi dengan berpakaian yang bermewah-mewahan dan berlebihan, kalau perlu semua perhiasan digunakan, semua pakaian necis dipakai, trus makan sahur dan berbuka dengan mubazir, nanti menjelang idul fitri pesta belanja dan sebagainya.
Selanjutnya kegiatan-kegiatan penyantunan itu cuma sekadar mempertontonkan simbol-simbol religiusitas agar semata-mata dibilang 'dermawan' di mata manusia, seperti jika membantu orang miskin dan anak yatim piatu mesti di liput televisi dan media massa, seakan-akan udah paling saleh sendiri.
Banyak fenomena seperti ini yang tampak berjubel selama Ramadan. Tepati, pascaramadan semua itu lenyap tak berbekas seperti melukis di atas air.
Inilah beda antara puasa sebagian kaum kaya dengan puasa kaum miskin. Kalau puasa sebagian kaum kaya biasanya betahnya cuma sebulan, trus selama sebulan itu dijadikan ajang unjuk gigi pamer segala kekayaan itu. Artinya, ternyata puasa itu sudah berubah dan turun status menjadi simbol kemapanan ekonomi belaka. Haus dan laparnya tak menyisakan pembelajaran apa-apa selain haus dan lapar selama sebulan itu.
Trus kalau kaum miskin, pada Ramadan ini terkadang belum tentu juga dapat berpuasa full, karena biasanya mereka harus membanting tenaga jauh lebih keras dan mungkin menganggap dari Ramadan ke Ramadan adalah sesuatu yang biasa saja dan sudah sering mereka hadapi, karena haus dan laparnya hampir sama saja tiap hari, yang beda mungkin banyaknya orang memberi sedekah, itu saja!
Dan pasca-Iidul Fitri nanti ya haus dan lapar lagi, bahkan mungkin lebih parah haus dan laparnya!
Meskipun sudah berkali-kali dibilang bahwa secara filosofis, berpuasa mestinya menyadarkan kita akan rasa haus dan lapar yang justru tiap hari dialami kalangan fakir miskin, dan sebenarnya pada bulan ini adalah ajang melatih diri untuk menjalani apa yang sama dirasakan kaum fakir-miskin yang serba kekurangan, serta untuk mengembangkan sikap empati dan simpati terhadap derita rakyat miskin. Tapi faktanya tidak demikian memang.
So… alangkah menjadi lebih menarik seandainya semua elemen masyarakat termasuk pemerintah mendiskusikan bagaimana caranya mengampanyekan agar momentum Ramadan dapat menjadi starting upaya memberdayakan kaum fakir-miskin yang termarjinalkan. Karena kaum fakir-miskin hadir bukan semata-mata karena takdir, tapi karena ternyata kekuasaan dan modal yang justru semakin memiskinkan, melanggengkan kemiskinan, tidak memberikan akses yang membebaskan dan tidak memihak kepada kaum miskin atau bahasa kerennya kemiskinan struktural.
Rudy Handoko
Jalan Tanjungsari 24, Kota Pontianak
081522543345
(Nurfajri Budi Nugroho)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.