Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Angkot Jakarta, Dicaci tapi Masih Dinanti

Fahmi Firdaus & Rizka Diputra , Jurnalis-Selasa, 18 Juni 2013 |11:29 WIB
Angkot Jakarta, Dicaci tapi Masih Dinanti
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
A
A
A

BUNYI klakson bersahutan, sesekali panjang mengaum. Menghardik beberapa Mikrolet yang ngetem sembarangan di muka Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Tengsin, Jakarta Pusat. “Huh.. angkot lagi, angkot lagi,” gumam seorang pengendara pasrah.

Sang sopir tampak abai. Membiarkan nyaring klakson serta bentak dan sumpah serapah berlalu begitu saja di samping kuping kanannya. Dia lantas berpaling ke kiri, melaju perlahan, sembari merayu calon penumpang yang umumnya para peziarah. Bila kabin mulai penuh, baru dia tancap gas.

Itulah pemandangan sehari-hari di perempatan Karet atau sekitar pusat-pusat perbelanjaan. Angkot kerap kali menjadi biang kemacetan. Jumlah mereka yang tidak lagi seimbang dengan banyaknya penumpang, membuat kompetisi di antara angkotan kota kian ketat.

Angkot banyak parkir di tempat-tempat keramaian untuk menjaring penumpang, tak peduli kendaraan berjejal menyebabkan kemacetan panjang. Mereka sudah bebal dengan umpatan, yang penting setoran harian tercukupi dan membawa uang cukup untuk anak istri di rumah.

Kasro, salah seorang sopir Mikrolet JP 03 jurusan Karet-Roxy, mengaku setiap harinya minimal harus mengumpulkan Rp165 ribu untuk disetor kepada sang pemilik. Sisa setoran, baru menjadi penghasilannya. Bila hari sedang mujur dia bisa membawa pulang Rp100 ribu, setelah dipotong uang makan, bahan bakar, dan setoran.

Seperti beberapa hari setelah pemakaman almarhum Ustaz Jeffry Al Buchori. Dimana ribuan warga berduyun-duyun bertakziah. Saat itulah, Kasro ikut kecipratan berkah.

"Alhamdulilah Mas, rezeki ada saja dari warga yang ziarah ke makam Uje. Biasanya rombongan ibu-ibu dari luar kota yang numpang angkot saya,” kata pria 41 tahun ini kepada Okezone, beberapa waktu lalu. “Tapi waktu Uje dimakamkan, angkot saya sampai tidak bisa jalan karena saat itu sangat macet dan padat oleh orang yang mengantar jenazah”.

Sambil rehat menunggu penumpang, Kasro pun berbagi kisah tentang awal mula dirinya menarik angkot. Kala itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai membatasi trayek dari bemo. “Saya dulu narik Bemo,” akunya.

Dia mengaku beralih menarik angkot karena sebuah tuntutan. “Saya narik bemo sudah enam tahun, karena ada peremajaan maka saya narik angkot sampai sekarang ini. Habis bingung mau kerja apalagi, saya punya keahlian nyupir ya saya manfaatkan,” kata warga Gang Buaya I, Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat ini.

Pria asal Tegal ini juga menuturkan, sekira lima belas tahun yang lalu, wilayah tempat dia menarik angkot sangat sepi. Sepanjang hari jalanan terlihat lenggang.

Dengan berjalannya waktu, wilayah Karet Tengsin sudah menjadi kawasan yang dijamuri gedung bertingkat. Hampir setiap sore, kemacetan menjadi rutinitas Kasro sehari-harinya.

“Padahal dulu di Karet Tengsin ini sangat sepi, tapi sekarang Anda lihat seperti sekarang ini, setiap hari macet parah apalagi Jalan Layang Non Tol Tanah Abang-Kampung Melayu belum jadi,” ujarnya.

Ketika disinggung maraknya aksi kejahatan dalam angkot belakangan ini, Kasro dengan tegas menjawab trayek Karet-Roxy yang dia lalui bukanlah wilayah rawan kejahatan.

“Kalau di trayek kami ini tidak pernah ada kejahatan dalam angkot. Karena hampir setiap hari sangat padat dan ramai apalagi kalau malam hari, makanya tidak ada penjahat yang berani macam-macam di sini,” tegasnya.

(Dede Suryana)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement