YOGYAKARTA - Meski sudah sembilan tahun berlalu, peristiwa gempa bumi tektonik yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 masih sulit dilupakan para korban. Pasalnya, hingga saat ini mereka masih ketakutan jika terjadi gempa meski dalam skala kecil.
"Kalau melupakan enggak bisa, trauma kalau ada gempa. Mungkin trauma tak bisa hilang sampai mati, kalau ada gempa langsung lari keluar rumah," kata salah satu warga Gunungan, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Daru Waskita, saat dikonfirmasi Okezone, Rabu (27/5/2015).
Daru menceritakan, peristiwa yang terjadi pada pagi hari itu menyebabkan 18 orang tetangganya meninggal dunia karena tertimpa reruntuhan bangunan rumah. Rumah di perkampungannya pun hampir semua rata dengan tanah karena roboh.
"Saya juga terkena reruntuhan rumah, walaupun sakit tapi masih beruntung bisa selamat. Tetangga saya ada 18 orang meninggal dunia," ujarnya.
Menurut Daru, keluarganya selamat karena saat itu sedang berada di luar rumah. Istrinya yang tengah hamil tua tak mengalami luka karena tengah olahraga jalan kaki di sekitar rumah. Namun, justru dia sendiri yang terkena reruntuhan karena masih berada di dalam rumah.
"Saya masih tidur di kamar, terbangun dan rumah sudah mau ambruk. Ada jalan celah untuk keluar, meskipun tertimpa kayu-kayu dan genting," kenangnya.
Saat gempa terjadi, Daru dalam kondisi yang belum sadar. Setelah berpikir sejenak, dia baru tahu bahwa terjadi gempa yang super dahsyat. Bangunan rumah miliknya maupun tetangganya pun tidak bisa dihuni kembali. (ira)
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.