Menurut Hengki, petani harus merugi karena hanya dibayar Rp200 per kilogram, sedangkan harus membayar buruh angkut hasil panen. Padahal, di pasar harga tomat Rp2.500 satu kilogram.
Walau prihatin, Hengki mengatakan aksi buang-buang hasil panen sudah biasa terjadi karena petani jengkel. Harga berbagai macam sayur yang selalu ditentukan oleh bandar atau tengkulak tidak bisa diprediksi sehingga petani harus pasrah jika harga jual anjlok.
Dedi yang juga menanam kentang dan kubis di lahannya berharap ke depannya, harga beli dari petani bisa stabil sehingga mereka tidak merugi.
(Retno Wulandari)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.